Showing posts with label journal. Show all posts
Showing posts with label journal. Show all posts

[Wedding Story] Pendaftaran Menikah: Catatan Tambahan

Kapan sebaiknya mulai mengurus pendaftaran KUA?

Semakin awal semakin baik. Apalagi, kalau targetnya adalah tanggal cantik. Ini balik lagi ke kebutuhan, ya.

Meski bukan tanggal cantik pun, bukan berarti lalu santai-santai dan urus mepet. Haha. Yang pasti, catin akan ditanya detail tanggal dan waktu untuk keperluan pencatatan. Aku kurang paham tiap KUA bisa melayani berapa kali akad dalam sehari. Tapi, pasti ada batas maksimalnya. Pokoknya, kalau udah ada tanggal pernikahan yang disetujui kedua keluarga, teman-teman bisa mulai tanya-tanya aja, karena ada potensi slot penuh di tanggal yang mau dipilih.

Selain itu, ini juga berpengaruh ke pemilihan waktu (spesifik jam). Kalau dari awal teman-teman udah punya target waktu tertentu berdasarkan pertimbangan, tentunya baiknya disampaikan jauh-jauh hari biar nggak berebut dengan catin lain.

Di kasusku, sekitar H-5 bulan aku memang udah mulai tanya-tanya soal pengurusan pendaftaran. Nah, saat itu aku udah ngasih tanggal juga, dan perkiraan jam akad. Apa udah ada pendaftar lain untuk bulan tersebut? Belum. Seingatku, pendaftar terdekat adalah catin bulan Mei, sementara aku di awal Juni.

Dalam prosesnya, aku sempat ubah pemilihan jam, menjadi mundur 1 jam dari pilihan awal. Sayangnya, ternyata perubahan itu nggak kecatat... Ketika akhirnya aku konfirmasi ulang (aku lupa ini sekitar H-2 bulan atau H-1 bulan), baru ketahuan kalau pilihan yang tercatat oleh pihak KUA adalah pilihan awal banget. Dan saat itu udah nggak bisa diubah karena jadwal udah penuh. Bahkan, kabarnya ada catin lain yang pengin ambil jam pagi kayak pilihan awalku, tapi nggak bisa, akhirnya catin tersebut ambil akad agak siang. Anyway, tanggal nikahku itu di hari Minggu. Mungkin ini berpengaruh juga, jadi banyak yang nikah di hari itu.

Jadi, wajib banget buat memastikan soal tanggal dan jam ini ke pihak KUA, ya. Kalau memang ada perubahan, pastikan berulang kali, dan pastikan juga udah benar-benar tercatat. Nggak apa-apa agak bawel dikit demi kelancaran acara.

[Wedding Story] Pendaftaran Menikah

Persiapan menikah paling krusial? Tentunya mengurus pendaftaran nikah ke KUA, dong. Biar tenang dan pas hari-H sah secara agama & hukum. 😉

Aku udah mulai tanya-tanya soal ini sejak 5 bulan sebelum nikah. Berdasarkan informasi dari beberapa teman, kurang lebih prosesnya mirip dengan penjelasan di ppid.semarangkota.go.id (Cara Mendapatkan Surat Nikah). Intinya, di awal, surat pengantar dari RT RW dibawa ke kelurahan untuk mendapatkan isian blangko N1-N4. Nantinya blangko itu dibawa ke KUA, dan proses selanjutnya dilakukan di sana.

Apakah sesuai? Nggak... Mungkin tiap kecamatan masih beda, ya. Padahal menurutku prosedur di web PPID udah jelas.

Jadi, suatu hari aku ke kelurahan sendiri. tanya proses pendaftaran nikah ke salah satu staf, untuk memastikan aja sih betul nggak alurnya sesuai di web. Beliau memberi tahu daftar dokumen yang dibutuhkan sambil menjelaskan kalau nantinya itu akan dibantu urus oleh Pak Modin ke KUA. Pak Modin ini adalah sosok yang memang sering bantu pengurusan dokumen pernikahan di daerah sini.

Karena kurang yakin dengan daftar dokumen yang diperlukan, di rumah aku bilang ke ortu untuk tanya langsung ke Pak Modin. Kebetulan, rumah beliau nggak jauh, dan Bapak kenal juga.

Dari beliau, daftar dokumen yang perlu diberikan calon pengantin putri:

  • Fotokopi KK
  • Fotokopi KTP calon pengantin
  • Fotokopi KTP ayah, ibu, saksi
  • Fotokopi akte kelahiran
  • Fotokopi ijazah
  • Fotokopi surat nikah orang tua
  • Fotokopi surat keterangan imunisasi (TT)
  • Pasfoto 2x3 (5 lembar), 3x4 (1 lembar), 4x6 (1 lembar)
  • Surat pengantar RW

Untuk calon pengantin putra, harus ngurus dokumen sendiri juga. Ini konteksnya nikahnya di tempatku ya. Jadi mas calon ngurus juga buat dapetin dokumen-dokumen yang kemudian aku bawa ke Pak Modin. Plus fotokopi-fotokopi dokumen yang kurang lebih sama kayak punyaku + pasfoto catin putra juga.


Setelah semua dokumen lengkap dan diserahkan, aku cuma tinggal nunggu aja. Kalau nggak salah, 2 bulan sebelum hari H udah lengkap semua. Selebihnya, pengurusan dokumen N1-N4 itu dibantu urus oleh Pak Modin berdasarkan dokumen yang aku berikan.

Menjelang Pernikahan

Sekitar H-1 bulan, aku & ortu sempat beberapa kali ke rumah Pak Modin lagi buat nanyain perkembangannya. Apakah ada yang dibutuhkan lagi atau gimana.

Nah, sempat ada kendala di sini... Suatu kali, kami dapat info kalau menjelang hari-H, capeng putri & capeng putra harus hadir bersama wali ke KUA secara langsung. Kendalanya, mas calon waktu itu udah dapat penempatan CPNS yang cukup jauh dari Semarang, dan posisinya sedang pelatihan dasar (latsar) CPNS. Aturan latsarnya cukup ketat. Dari awal, jatah bolos/izin direncanakan untuk digunakan pas nikah (karena latsar masih berlangsung sampai saat itu).

Aku & keluarga sempat bolak-balik beberapa kali ke staf KUA & Pak Modin. Bahkan sempat ngajuin, bisa nggak hadir lewat video aja? (Kalau konteks "wajib hadir"-nya untuk bimbingan menikah, menurutku lewat video juga nggak jadi penghalang). Atau, kalau ada dokumen yang perlu ditandatangani, bisa ditunda sampai hari H.

Aku juga tanya-tanya ke teman yang udah pernah nikah, apakah catin wajib hadir dua-duanya? Secara aturan, kayaknya betul ya bahwa sebaiknya hadir dua-duanya untuk diberi penjelasan/bimbingan tentang menikah. Tapi berdasarkan pengalaman teman-teman, ada juga yang bisa mengurus tanpa kehadiran langsung catin putra. Bahkan ada juga yang catin putri & putranya nggak hadir sama sekali ke KUA selama proses persiapan (karena terkendala jarak). Semuanya bisa diurus oleh ortu pihak carin putri. Ini hasil aku tanya ke teman-teman yang di Semarang maupun non Semarang, ya.

Tapi, alhamdulillah kendala ini bisa teratasi dengan baik. Detailnya nggak aku ceritakan di sini, japri aja ya kalau mau sharing. 😂 Oiya, ketika di KUA, ternyata aku nggak dapat bimbingan menikah gitu.. melainkan lebih ke arah pengecekan data dan tanda tangan sejumlah dokumen.

Itu proses terakhir pengurusan pendaftaran. Jangan lupa, pas pertemuan terakhir itu, pastikan kembali lokasi, jam, dan tanggal akad ya ke bapak penghulu.

Setelah itu, tinggal menunggu hari-H aja. Nggak ribet, kan, prosesnya?😄

[Wedding Story] Setelah Lamaran

Setelah lamaran, apa selanjutnya?

Yak, menentukan tanggal.

Ketika proses lamaran, tanggal menikah memang belum pasti. Jadi, baru dibahas setelahnya.

Di keluarga besarku, penentuan tanggal menikah masih pakai hitungan Jawa dari tanggal lahir kedua calon pengantin. Aku kurang paham detailnya karena yang bantu hitung adalah Mbah (bapaknya Ibu). Setahuku, proses hitungan ini pun bisa beda-beda ya tiap orang. Ada yang hanya berpatokan ke tanggal lahir, ada juga yang ditambah aspek lain misal tanggal lahir orang tua, arah rumah menghadap mana, dll.

Alhamdulillah, di keluargaku, tanggalnya cukup fleksibel. Bukan saklek harus banget tanggal ini. Jadi, muncul beberapa opsi di bulan-bulan yang berbeda. Yang paling aku syukuri kemudian, semua opsi tanggalnya adalah hari Minggu, bukan hari kerja. Ini membantu banget karena jarak tempat tinggalku & keluarga besar calon suami jauh banget. Bakal repot kalau hari kerja. Apalagi, keluarga calon suami nggak memakai hitungan Jawa kayak gini.

Dalam proses memilih tanggal, aku sempat minta pendapat ke calon suami. Lalu, orang tuaku pun sempat menghubungi orang tua calon suami untuk menyampaikan bahwa dari keluarga besar kami bisanya tanggal sekian bulan sekian.

Nah, setelah ada tanggal pasti, keluargaku gantian berkunjung ke rumah keluarga calon suami di Jember. Nggak banyak orang, sih.. hanya keluarga inti, beserta Pakdhe & Budhe. Tujuan kunjungan ini silaturahmi, sekaligus menginformasikan tanggal pernikahan secara langsung.

Tentunya proses aktualnya panjang, ya, dibanding yang tercantum di sini. Karena ini melibatkan dua keluarga besar yang juga punya kepentingan masing-masing. Belum lagi kekhawatiran karena overthinking memikirkan ini itu. Tapi, ini kan proses menuju salah satu ibadah. Karena niat dan tujuannya baik, nantinya akan dituntun juga, kok.

Untuk teman-teman yang sedang atau akan merencanakan pernikahan, semoga proses penentuan tanggalnya berjalan lancar dan kedua belah pihak keluarga setuju tanpa banyak kendala, ya. Aku paham tiap keluarga punya caranya masing-masing. Pelan-pelan aja.
Masjid yang kami singgahi dalam perjalanan.

 Silaturahmi ke rumah calon mertua untuk pertama kalinya. 

Keluargaku sama sekali belum pernah ke Jember. Kami hanya mengandalkan Google Maps selama perjalanan. Kami sampai sekitar pukul 07.00 WIB. Karena masih ada waktu sampai waktu check in penginapan, kami jalan-jalan ke pantai di Jember, yaitu Pantai Papuma dan Pantai Watu Ulo.

Kedua pantai ini ada di satu daerah yang sama. Kalau mau ke Papuma, pasti harus melewati Watu Ulo. Papuma jauh lebih ramai dibanding Watu Ulo. Ombaknya pun lebih kencang, ya. Kami sempat ditegur pengurus pantai untuk geser ke bagian tengah pantai aja (awalnya kami memang berada agak di pinggir, dekat batu-batu). Ombak di tengah pantai cenderung lebih kecil dibanding di pinggir, jadi lebih aman.

Btw, karena keasyikan main air, HP-ku sempat nyemplung ke air laut dan hampir kebawa arus. Untungnya berhasil ditangkap Pakdhe. Tapi... HP-nya mati total. Sorenya setelah check in penginapan dan istirahat sebentar, aku minta tolong calon suami untuk bawa ponsel itu ke konter reparasi. Tapi, menurut penjaga konter, prosesnya butuh waktu lama. Sementara, aku dan keluarga berencana pulang keesokan siangnya. Akhirnya, untuk sementara aku pinjam hp adek sebagai alternatif darurat. HP-nya batal direparasi. Agak sedih ya, rasanya kurang tenang selama istirahat dari siang sampai malam. Padahal, hari itu memang sengaja diperuntukkan sebagai hari istirahat setelah perjalanan jauh.

Paginya, kami check out penginapan dan berangkat menuju rumah keluarga calon suami. Alhamdulillah, kami disambut hangat. Banyak keluarga besar yang ikut hadir. Menjelang siang, kami pamit pulang. Keluarga mas calon suami ngasih banyak oleh-oleh untuk dibawa pulang. Dari sana, kami langsung menuju Semarang lagi.

HP-nya? Nggak tertolong. Di Semarang, HP-nya sempat dibawa ke konter juga tapi katanya nggak bisa diperbaiki lagi. Akhirnya beli ponsel langsung ke toko karena butuh penggantinya secepat mungkin buat kerja dll.

Beberapa hari setelahnya pun keluargaku sempat berduka karena Mbah Lanang dari keluarga Bapak (bapaknya Bapak) meninggal dunia. Pokoknya, hari-hari di akhir 2020 itu terasa sibuk banget..
Pantai Papuma

[Wedding Story] Cerita Lamaran (2): Cincin

cincin.

cincin lamaran ini kami beli langsung (waktu itu belum pandemi) di toko emas semar nusantara semarang, karena sepertinya ini toko besar dan banyak pilihan. awalnya pengin pesan daring, tapi takut nggak keburu.

btw, toko emas tuh rame banget ya.. bener-bener banyak orang di semua area. sebagai orang yang lebih suka belanja online, pergi ke toko emas menurutku menguras energi banget.

untuk cincin lamaran, dari awal aku emang mau pilih yang warna emas asli aja, bukan yang putih. sebetulnya menurutku pilihan modelnya kebanyakan kurang sesuai selera (untuk yang kadarnya agak tinggi, karena ada beberapa pilihan kadar emasnya). tapi karena butuh dan males kalau cari toko lain, berusaha pilih yang tercantik, di antaranya yang ada.

tukar cincin nggak pas lamaran? iya.. tapi cincin laki-laki dibeli via online, karena mau beli yang silver (kan laki-laki nggak boleh pakai emas). belinya di spilla jewelry, ya. selain dengan transaksi via online, ada store yang bisa didatangi juga kok kalau mau sekalian nyoba ukuran cincin mereka dan lihat beberapa contoh cincinnya.

untuk cincin silver, pembuatannya jauh lebih singkat daripada cincin emas atau palladium, jadi masih terjangkau waktunya. kurang lebih 2 mingguan ya, tapi seingatku jadinya lebih cepat.

cincinnya nggak model couple dong? mm, untuk cincin laki-laki, kami belinya yang polos dan ada bagian yang berlapis warna emas, biar lumayan nyambung sama cincin yang aku beli. meskipun ujung-ujungnya cincinnya nggak dipakai juga sih.

kalau teman-teman mau beli cincin dan kebetulan masih ada waktu panjang, aku lebih menyarankan beli online aja di toko yang memang bisa custom. karena kalau beli langsung, pilihannya terbatas. bisa jadi kalian suka modelnya, tapi nggak ada ukuran yang pas (pengalaman waktu itu, toko emas yang kudatangi nggak bisa resize cincin). lalu, meskipun bisa request untuk tambah ukiran nama, menurutku ukirannya lebih cantik ketika custom online ke toko yang memang spesialis di cincin custom. jumlah hurufnya pun lebih terbatas dibanding custom online (mungkin karena cincinnya udah jadi duluan, jadi sulit).

[Wedding Story] Cerita Lamaran (1): Bunga & Dekorasi

cerita lamaran. 

merencanakan lamaran (yang tentunya mengarah ke pernikahan) tuh jadi obrolan biasa sehari-hari. maksudnya nggak ada momen khusus "will you marry me?" di tempat spesial sambil ngasih cincin. omong-omong soal melamar, adegan paling nyantol di kepalaku adalah ketika remi melamar kugy di pinggir pantai (film "perahu kertas"). ada suasana nyaman, ada pemandangan yang indah banget, dan ada debur ombak pelan. perfect moment for a couple. tapi, hati kugy nggak di sana. masih kebayang raut muka canggungnya ketika remi jongkok buat ngasih cincin..

yah, pada akhirnya, bukan tempatnya. bukan suasananya. bukan makanannya. tapi, orangnya.

kalau versiku, setelah dijadikan obrolan secara berkala, sempat ada momen di mana dia datang ke rumah sendiri untuk meminta izin sekaligus menyampaikan maksud bahwa dia & orang tuanya akan datang melamar. menuju hari-H, pengin banget ada dekorasi kecil-kecilan di rumah biar ada background foto sebagai kenang-kenangan. tapi, sewa dekor ternyata lumayan juga ya.. jiwa rakyat jelata jadi bergejolak. akhirnya memutuskan buat dekor sendiri aja. cari-cari referensi foto & video. lalu beli kain, daun-daun imitasi, pita, lampu tumblr, dan hulahop. kainnya dijahit (disambung) ibu. hulahopnya aku hias pakai pita dan daun imitasi. lalu aku juga bikin inisial huruf pakai kardus dan kertas marmer. H-1, semua didekor di dinding, dibantu bapak & ibu. total biaya cuma 100 ribuan, nggak sampai 200 pokoknya..

malam hari H, aku sempat kirim pesan, minta dibawakan bunga. kenapa? pengin aja.. kapan lagi kan dapat bunga selain pas kelulusan? lalu kesannya romantis aja (halah 😄). terus, biar pas foto agak rame dikit karena ada bunga (dekorku kan nggak ada bunganya). ngerepotin banget memang, baru minta H-1.. tapi aku juga yakin kalau nggak minta tuh nggak bakal dibawain, haha.

pada akhirnya bunganya dibeli beneran, alhamdulillah dapat. bahkan meski dadakan dan malem-malem (mepet tutup), masih ada beberapa opsi rangkaian bunganya (gambarnya sempat difotoin biar aku bisa ikut milih).

alhamdulillah, semuanya lancar.. bunganya juga masih segar sampai besoknya. cantik, kan, aku & bunganya? 🌺🌺🌺😂



teman

kami disatukan barangkali enam belas tahun lalu, ketika putu bumbung belum jadi makanan langka dan bakso ayam belum muncul. hiburan kami adalah TV dan permainan populer pada zamannya: petak umpet, tong rembet, engklek, dakon, dsb. kami nggak kenal HP atau komputer. gadget terkeren kami adalah gimbot tetris.

kami suka baca. dulu, anak koran "suara merdeka" yakni "yunior" berwujud terpisah dari induknya. itu adalah bacaan paling hits (selain bobo dan KKPK) bagi kami. kami berlomba-lomba berkarya: kirim surat, pengalaman, pantun, gambar, dsb. bayangin aja, karya anak SD dimuat di media jateng. kebayang gimana bangganya kami kan?😂 kami juga sempat berkorespondensi dengan sahabat pena. tulis di kertas, masukkin amplop, tempel perangko. romantis banget rasanya.

puncak kebersamaan kami adalah saat kami ikut jadi wartawan yunior. ikut pelatihan, dapet ID card, sampai akhirnya benar-benar liputan (tentunya didampingi). one-day trip kami untuk wawancara ke tokoh masyarakat menjadi nggak terlupakan. kami boleh jadi masih SD, tapi semangat kami kayaknya bisa menggentarkan banyak hal. ketika akhirnya foto kami mejeng di koran (nama kami tercetak jelas) dan artikel hasil wawancara dipublikasikan, nggak bisa dibayangin betapa senangnya kami.

bertahun-tahun setelahnya, meskipun kami terpisah sejak SMP-kuliah dan kami bertemu banyak sahabat baru, ternyata ikatan kami memang enggak pernah pudar. masih tetep nyambung tiap ketemu, tetep nggak jelas, masih tetap bisa merangkul satu sama lain. saya masih melihat widya yang sama, rika yang sama, dengan versi lebih dewasa.

saya bersyukur banget masa-masa SD saya diwarnai banyak hal menakjubkan, dan kalian ada di sana bersama saya.
.
"Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap." (HR. Bukhari & Muslim)

Untuk Kamu yang Mengaku Indonesia, Sudahkah Kamu Merayakan Indonesiamu?


Sudjiwo Tedjo pernah berkata bahwa menghina Tuhan itu gampang. Kita khawatir besok tidak bisa makan, itu sudah termasuk hinaan pada Tuhan. Saya mau menambahkan: menghina negara kita ini juga gampang.

Saya kerap menemukan tulisan-tulisan yang bertebaran di media sosial, atau mungkin bahan komentar verbal langsung dari orang sekitar, yang mengkritisi suatu kejadian, kasus, maupun isu negatif. Sayangnya, tulisan tersebut diberi embel-embel
“Selamat datang di Indonesia, negara yang ...” 
Atau mungkin, yang adalah adalah kalimat sejenis dalam bahasa lain. Bukan hanya satu dua orang yang menceletukkan hal semacam itu. Saya yakin banyak orang yang juga capek membaca kalimat itu. Contohnya saja, ada berita mengenai korupsi, lalu ada yang mengucap spontan, "Selamat datang di Indonesia, negara yang penuh koruptor!"

Dalam kepala saya, mengkritisi sesuatu memang bagus, apalagi apabila penulisnya memberikan analisis yang tajam dan tepat. Hanya saja, dengan mengatakan satu kalimat ‘tersebut’, ada nada pesimistis, negatif, kegetiran, ketidaksukaan—yang tersirat. (Saya pernah mengutarakan hal ini sekilas melalui akun Line pribadi saya, tapi sekali lagi saya membahas ini dengan versi lebih panjang di sini.)

Saya pernah membaca seri Chicken Soup for the Soul-Graphic Novel “Pelajaran Berharga” oleh Kim Dong Hwa (2006) Salah satu cerita dalam buku tersebut mengisahkan seseorang yang mengeluhkan hidupnya tiada henti. Lalu, temannya menawarkan akan mengajaknya ke tempat yang bebas dari masalah apa pun. Tahu ke mana mereka pergi? Oh, jawabannya adalah pemakaman.

Tentu saja, si pengeluh itu menyadari apa yang disampaikan oleh temannya.

Tidak ada orang yang hidup tanpa masalah. Saya rasa, begitu pula dengan Indonesia. Saya ulangi lagi kalimat fenomenal ini: tak ada yang sempurna di dunia ini. Pun dengan suatu negara. Pada suatu negara, dengan bangsa yang ada di dalamnya, segala sesuatu bergerak secara dinamis dan fluktuatif. Tentu saja akan ada perubahan, masalah, hal positif, bahkan urusan politik yang disoroti rakyat dan media. Akan ada pula kasus korupsi (yang bagi sebagian orang—tiada henti) diwarnai drama, tuduhan, dan sangkalan; akan ada kasus seseorang melakukan suatu tindak pelecehan yang membuat masyarakat geram; atau barangkali akan ada informasi tentang siklon Cempaka yang sedang terjadi, yang menimbulkan kedukaan bencana di beberapa titik.

Tetapi, hei, jangan lupa bahwa ternyata di belahan dunia sana, tim ganda putra bulu tangkis kita ternyata memenangkan medali emas! Kali lain, ternyata pelajar Indonesia mengembangkan suatu inovasi yang hebat dan diakui dunia internasional. Dari buku “Merah Putih Dunia Biru” (2011) yang ditulis Erditya Argah, wah, bahkan ternyata orang-orang Polandia amat tertarik mempelajari kesenian Indonesia yang mengagumkan. Jangan lupakan juga ketika KPK berhasil menyelesaikan suatu kasus dan menyelamatkan triliunan uang negara dari jerat koruptor!

Kebebasan berpendapat diatur dalam undang-undang—itu adalah hal yang mutlak. Tapi, kalau kita bisa memilih mengkritisi suatu hal sekaligus menebarkan optimisme dan kebanggaan akan Indonesia, kenapa tidak?  

Dari apa yang saya pelajari di kelas, Jacques Derrida, seorang filsuf, menyatakan bahwa tidak ada makna yang kekal. Makna berubah-berubah sesuai dengan waktu dan zamannya. Kita dapat mendekonstruksi suatu hal untuk memperoleh makna baru. Kita bisa saja mencoba menerapkan konsep yang sama. Sebelum menyalahkan dan cenderung menjelek-jelekkan negara ini, kenapa tidak kita lihat sisi lainnya? Barangkali selama ini kita terlalu banyak sekadar melayangkan pendapat dengan nyinyir di media tanpa melakukan aksi nyata. Barangkali ada situasi tersembunyi yang tidak kita tahu. Segala sesuatu mungkin terjadi.



Pada suatu waktu, ketika saya mengunjungi destinasi populer Indonesia yakni Candi Prambanan, saya melihat manusia saling bertumpah-ruah di suatu tempat dengan damai. Tak peduli mereka Hindu atau Budha, tak peduli berjilbab atau tidak, tak peduli berkulit putih Eropa atau sawo matang Indonesia, mereka saling mengagumi kekayaan negara ini dengan bahagia. Bahkan orang asing bisa mencintai negara ini, maka sepatutnya kita lebih dan lebih bangga lagi.

Saat saya melalukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) empat bulan lalu di Pati, saya beberapa kali keluar dengan teman-teman satu tim untuk sekadar menengok alamnya. Kami yang bertemu dengan berbagai latar belakang berbeda berjumpa dengan eksotisme negara ini. Ada ribuan menit di mana saya menahan napas sejenak, amat terpukau dengan suguhan Indonesia di depan mata—yang sederhana, tapi indah. Begitu pula ketika saya di Bali, di Jepara, di belahan Indonesia yang mana pun.

Bukankah kita semua pernah memperoleh perasaan itu?



Yang juga berperan mendorong optimisme saya akan bangsa ini adalah ketika saya melihat anak-anak. Melihat semangat dan kemauan mereka untuk belajar, melihat sorot mata murni penuh keingintahuan, dan melihat tawa kesenangan mereka untuk melakukan apa saja yang mereka inginkan. Mereka penuh aura positif yang menakjubkan, dan penuh cita-cita.

Kali lain, ketika saya berkesempatan menjadi volunteer dalam suatu kegiatan komunitas di daerah pesisir Semarang, saya bertemu anak yang tidak bisa lupakan hingga kini. Ketika kegiatan selesai, dan anak-anak lain bergegas pulang ke rumah atau bermain di depan, ada satu anak laki-laki yang berdiri di depan rak buku sembari membuka-buka buku. Saya pikir, dia akan pinjam buku komik atau cerita anak yang lainnya, karena itu yang dulu saya lakukan.

Perkiraan saya sama sekali salah. Ternyata, ia justru bilang pada salah satu pengelola komunitas, “Mas, aku pinjam ini, ya,” dan memperlihatkan buku RPUL sebelum akhirnya pamit pulang.

Kalau saya dulu, RPUL saya buka hanya jika sedang ada PR atau penasaran tentang suatu hal—itu pun tidak terlalu lama. Makanya, saya takjub melihat anak itu sebegitu tertariknya dengan RPUL hingga meminjamnya.

Saya terinspirasi bahkan dari setiap kejadian kecil di sekitar saya, karena kita tidak selalu butuh hal besar dan luar biasa untuk berubah. Saya percaya, seperti dalam hadits, bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain, maka bukankah kita bisa menjadi bermanfaat dengan menebarkan semangat positif kebanggaan Indonesia? Satu demi satu pengalaman hidup mendorong saya untuk optimistis dan bangga dengan Indonesia. Saya percaya dengan anak-anak, remaja, pemuda, dan banyak rakyat Indonesia di masa depan. Kalau kamu?
ocasia.org

Sebentar lagi bahkan perhelatan Asian Games 2018 akan dimulai di Indonesia yang berperan sebagai tuan rumah. Untuk seluruh atlet yang akan berjuang di laga tersebut, saya juga yakin mereka akan melakukan yang terbaik dan siap membanggakan Indonesia. Kita mungkin bukan atlet, bukan pemerintah, atau bukan sosok yang secara langsung terlibat. Namun, kita tetap bisa mengenyahkan segala keraguan dan bersemangat bersama merah putih kita


: karena kita adalah satu.



Yuk, rayakan persatuan Indonesia dengan segala keberagamannya!


(foto: kecuali logo Asian Games, semuanya adalah dokumentasi pribadi penulis yang diambil di beragam tempat di Indonesia)

Sebuah Dialog

Image result for wondering tumblr

“Wasn’t that the point of life? To find someone to share it with? And if you got that part right, how far wrong could you go? If you were standing next to the person you loved more than everything else, wasn’t everything else just a scenery?”
(
Rainbow Rowell dalam “Landline”)

Obrolan soal finding someone atau laki-laki versus perempuan itu selalu ada untuk diperbincangkan. Kali ini saya tiba-tiba kangen mengisi blog ini, sekaligus tergelitik dengan dialog yang terjadi di dekat saya—yang mana saya ikut mendengarkannya, menimpali sedikit, tapi selebihnya menjadi pemerhati saja.
Dialog tersebut berisi pembahasan mengenai sebuah tulisan yang didapat dari sebuah media (saya sendiri kurang tahu sumber tepatnya). Dalam tulisan tersebut, dijelaskan bahwa apabila seorang suami menyadari peran dan tanggung jawabnya sebagai seorang kepala keluarga, mengasihi keluarganya, maka Allah akan memudahkan segala urusannya untuk keluarganya. Alkisah ada seorang suami yang hanya mempunyai sedikit uang, lalu ia bertanya pada istrinya, apa yang ia inginkan hari ini. Istrinya ini ingin sekali punya cincin, tapi ia sadar kalau uang suaminya dipakai buat beli perhiasan, itu akan menghamburkan uang saja. Tetapi si suami kekeh membelikan istrinya hadiah. Ternyata, keputusan suami ini sama sekali tidak salah, karena tepat setelah membelinya, sang suami memperoleh rezeki dari profesi yang ia lakoni.
Cerita tersebut dituturkan lalu dikaitkan dengan peristiwa dan fakta yang ada di sekitar lingkungan. Dari apa yang saya dengar, berdasarkan pengalaman-pengalaman yang terjadi, hal tersebut benar adanya. Lalu muncul cerita beda versi, yang intinya tetap sama. Muncul lagi cerita yang berkebalikan, yakni ketika laki-laki melepas peran dan tanggung jawabnya, maka Allah akan mengambil apa yang sebenarnya bisa ia dapatkan untuk keluarganya. Singkatnya, bakal seret.
Saya percaya itu akan benar-benar terjadi. Saya ingat sebuah video dari Sudjiwo Tedjo, yang mengatakan bahwa menghina Tuhan itu mudah banget. Khawatir besok nggak bisa makan itu termasuk hinaan pada Tuhan. Padahal yang kita perlukan adalah kepercayaan terhadap-Nya. Bahkan kalau kita berdoa, maka Allah akan memberikan apa yang kita butuhkan, apa pun itu.
Saya termasuk orang yang berpaham bahwa dalam keluarga, laki-laki itu memang harus ada di depan. Karena ia lah imamnya. Ia lah penuntun keluarganya. Ia yang bisa membimbing. Maka, bukankah sewajarnya usaha dan kepercayaan terhadap-Nya itu mutlak?
(Oke. Saya seolah-olah kayak lagi bijak aja ...)
Anyway, kalau ada orang yang sudah membaca buku yang kutipannya saya sertakan di atas, pasti bisa tahu bahwa apa yang saya baca itu bertolak-belakang dari prinsip saya. Analisis soal gender atau feminisme dalam novel tersebut pasti bakal jadi obrolan yang panjang karena novel tersebut dengan cemerlang menunjukkan bagaimana perempuan bisa melakukan apa yang ia mau—bahkan menjadi kepala keluarga sementara suaminya menjadi bapak rumah tangga—dengan konflik yang dituturkan dengan rapi. Tetapi, saya mengakui itu novel yang bagus. Saya bukan orang yang membatasi bacaan saya, dan saya percaya setiap buku punya “nilai”nya tersendiri.
Nah, tapi saya bukan mau memberi review buku tersebut, jadi ... kalau penasaran, sila baca. :D


(foto: tumblr.com)

Perihal Hujan Lagi Malam Ini



...
Aku ingin memelukmu, tapi kau serupa kabut tak tersentuh selepas subuh.
Seandainya mempertanyakanmu semudah mencintaimu; maka akan kubuat deretan pertanyaan tak berujung: untuk mencintaimu, apa lagi yang bisa kulakukan selain itu?
Tapi telah habis waktu, mencelupkan tanya pada genangan rindu hanya melahirkan prasangka yang tak bisa kutepis, harap-harap utopis yang manis: dibangunkan oleh senyummu, dan dininabobokkan oleh keningmu.
Kita hanyalah sepi tak bertepi.
(“Bertanya Kabut”, halaman 32)
Tempo hari, ada satu buku yang sampai ke tangan saya. Kovernya cantik sekali, dengan latar foto yang diisi dengan pendar lampu pada malam hari; senada dengan judul bukunya: Hujan Lagi Malam Ini.
Yang membuat saya terpukau selepas membuka segel bukunya, saya baru sadar bahwa buku ini padat berisi. Total ada lebih dari 50 puisi ketika saya memperhatikan deretan judul yang ada di daftar isi. Lalu, tiap puisi pasti ditemani dengan foto-foto estetis. Maka, seperti ada dua hal yang berbicara dalam buku ini: puisi melagukan maknanya, sementara suguhan foto akan membuat kita termenung sejenak memahaminya. Ini cara berpuisi yang membuat candu.
Rumahku bukan tempatku kembali, dan kau, kafe sepi yang sering kukunjungi.
(“Kebohongan yang Membahagiakan”, halaman 9)
Hujan Lagi Malam Ini merupakan buku kumpulan puisi gubahan Galih Satrio Nugroho (@galihsatrion), yang dilengkapi dengan foto-foto karya Hanifah Iskhia Dilla (@hanifahiskhiadilla). Jika ada yang bertanya pada saya, buku ini tentang apa, maka barangkali saya akan menjawab: perihal mencintai.
Mencintai dalam arti luas dengan segala yang melekat padanya: melepaskan, sepi, memberi. Di samping perihal yang lain: mencintai puisi.
Ada kesenangan tersendiri ketika menikmati larik-larik puisi di sini. Bagi saya, membaca puisi seolah-olah merupakan dialog dengan diri sendiri. Mungkin bukan katarsis, tapi setidak-tidaknya, saya menyukai puisi melegakan dahaga dan menyemai kelapangan pada hati saya.
Pun dengan buku ini.
Di bawah guyuran hujan kau bertanya: “Apa kita tak bisa jatuh cinta saja?”
(Biru”, halaman 74)
Judul buku ini diambil dari salah satu judul puisi yang ada di dalamnya: Hujan Lagi Malam Ini.
Jika hujan lagi malam ini, ajaklah aku untuk menemukan separuh dirimu di dalam diriku dan membiarkanmu menangis seakan kau menggenggam seluruh kesedihan di muka bumi: sebab terlambat menyadari aku memiliki kehilanganmu bertahun lamanya.
("Hujan Lagi Malam Ini", halaman 35)

Ada banyak puisi yang menjadi favorit saya, dan beberapa kutipan di antaranya adalah yang teman-teman baca di sela-sela tulisan ini. Buku setebal 107 halaman ini benar-benar akan bisa membuat kita menyelami bait-bait kata yang disusun dengan apik oleh menulis.
Aku selalu menantimu untuk meninggalkanmu lebih jauh lagi. Agar aku bisa menantimu kembali  bersama kata-kata dan langit biru. Sebab mencintai kau adalah mencintai hal-hal yang berlawanan tentangmu.


(“Belum Ada Judul (2)”, halaman 52)

Omong-omong, pre-order buku Hujan Lagi Malam Ini masih dibuka sampai tanggal 15 Juli nanti. Sila simak info lengkapnya di akun @hujanlagimalamini
Selamat membaca, dan selamat jatuh cinta!

Running Away

Aku suka membaca. Benar-benar suka. Walaupun, intensitasnya naik turun berdasarkan kesibukan dan hal lain-lain. Tapi akhir-akhir ini, aku merasa tolol karena kadang membaca aku jadikan sebagai ... pelarian.

Saat SMA, aku hanya membaca buku-buku yang menarik minatku. Genre yang aku pilih hanya itu-itu saja, dan minatku masih seputar minat children and middle ages pada umumnya: yang berbau-bau fantasi, dan sesekali novel ringan ala anak SMA. Cukup sulit juga menemukan teman yang sama-sama suka genre fantasi saat itu, meskipun ya, ada. Memasuki kuliah—khususnya ketika aku semakin naik ke semester atas—variasi bacaanku meluas, namun tetap dalam ranah fiksi. Aku menjadi suka membaca novel-novel klasik, baik itu dari penulis Indonesia ataupun sastra kanon dunia dari negara lain. Aku mencoba membaca novel-novel berbahasa asing. Aku membaca buku-buku yang lebih ‘berisi’ dan serius, tidak hanya sekadar bacaan menghibur yang bisa kuselesaikan dalam beberapa jam saja. Apakah aku tetap membaca novel-novel young adult romance yang ringan dan menghibur? Ya, tentu saja. (Apapun, asal bukan horor, aku oke-oke saja.)

Nah, buruknya begini. Sesekali, aku berada dalam titik jenuh; lagi-lagi hal yang serupa terjadi. Atau, aku menghadapi situasi rumit yang tidak bisa kuselesaikan saat itu juga. (Bahkan meskipun usiaku sudah berada di kepala dua atau ada fakta bahwa aku adalah anak pertama dalam keluargaku, aku belum bisa mengatakan bahwa aku adalah orang yang dewasa.) Kebiasanku untuk menenangkan pikiran adalah 1) makan es krim 2) membaca dan terus membaca sampai berjam-jam kemudian. Membaca sampai aku perlu ditarik dari dunia fiksi di hadapanku. Membaca berbagai macam buku sampai aku lupa apa saja yang sudah kubaca kemarin. Membaca sampai aku bisa menghilangkan luapan emosi apapun yang kurasakan.

Itu bukan sesuatu yang bagus. Aku bahkan perlu mengingatkan diri sendiri untuk tidak keterlaluan dan tetap menambatkan diri ke dunia nyata. Aku perlu ingat bahwa ada yang harus kuhadapi. Bahwa ada yang perlu kuselesaikan.

Dan aku tidak bisa lari begitu saja.

Bukankah begitu?

(Ya, meskipun tidak semudah itu.)

Dark Beauty of Prejudice

Tell me, do not you feel that everyone of us sometimes will be wrong about others?

The universe can emphasize this. It will show us a bundle of new things that we can find in our life. And I find that I have misjudged others.

Misjudging someone is as easy as eating food. It happens naturally. We do not need to think too much. Somehow, we even do not realize that we eat too much until we see a lot of plastic wrapper of snacks in front of us, don’t we? However, misjudging has never been a good attitude. Never.

I have misjudged people around me. What I did was just letting myself think that they were like my opinion, while I did not know the fact. Blaming some things on the people, though the thought was only in my head. Though I had never talked about it. The worst is that I did not do anything. I felt that my opinion was enough to fulfill my head. I did not try to look for the truth.

Have you seen “Pride and Prejudice” movie? That is such a beautiful movie, anyway. Watching this movie again makes me understand many things. About prejudice. We can see that Lizzie was wrong about Mr. Darcy, maybe also about Mr. Wickham. And Mr. Darcy was also wrong in many cases. And so other people: Mr. Bingley was wrong about Jane, Jane and her family was wrong about Lizzie, and so many other things. There is a scene: when Lizzie talked to her dad about Mr. Darcy. Lizzie said, “He wasn’t proud. I was wrong. I was entirely wrong about him. We don’t know Papa. If I told you what he’s really like, what he’s done..” These sentences really stab me downward. We are also a fool, don’t we? We usually see people as if we know them very much, as if we have already revealed secret things that they have. But we haven’t. Even we feel afraid to be clumsy or awkward to get closer. To know the truth.

Like Lizzie said, we were misjudging in every way, not just in a matter. Then, when we know the truth, perhaps we will regret it. Regret that we spent too much time to sink in misjudging. Regret why we don’t encourage ourselves to embrace them since the beginning so that we won’t be wrong.

We are all trapped by the beauty of prejudice. But, remember: it has dark beauty. Prejudice will lead us to misjudging, somehow. Thus, try to remember, do you misjudge someone recently?

Membaca: Atticus, Jem, dan Scout di Maycomb County (2)

Aku jatuh cinta dengan Atticus.

Benar-benar jatuh cinta.

Kalau aku ingat-ingat kembali, tokoh fiktif yang terakhir kali benar-benar aku sukai adalah Scarlet O'Hara dalam film Gone with the Wind. (Sayangnya aku belum membaca bukunya.) Ya, Scarlet memang super keras kepala, egois, dan sederet sifat lain yang membuat banyak orang tidak menyukainya. Bahkan menurutku karakter itulah yang membuatnya 'kehilangan' di akhir cerita. Tapi, di balik itu, ada keistimewaan dalam diri Scarlet, seperti bagaimana tangguhnya ia untuk bekerja keras dan meminta adik-adiknya melakukan hal yang sama ketika keluarga mereka mengalami kesulitan finansial karena konflik perang, atau ketika Scarlet mau mengurus Melanie selama berhari-hari saat Melanie akan melahirkan (sementara ada fakta bahwa Melanie adalah istri dari lelaki yang dicintai Scarlet). Scarlet tidak sempurna, karakternya tampak begitu nyata--seperti manusia pada umumnya. Tapi itulah yang membuat aku kagum dengannya (sekaligus sebal).

Bagaimana dengan Atticus Finch?

Atticus itu... mengagumkan. Aku tidak bilang ia sempurna. Tidak. Aku lebih-lebih jatuh cinta terhadap cara Atticus bersikap pada anak-anaknya, Scout dan Jem.

Scout mendeskripsikan Atticus sebagai pria tua hampir 50 tahun, lebih tua dari usia rata-rata ayah teman-temannya di sekolah. Beberapa kali, Scout memperoleh komentar pedas orang lain tentang ayahnya. Salah satunya, Miss Caroline yang mengkritik cara mengajar Atticus, lalu ditanggapi secara tenang oleh Atticus (baca: Membaca: Atticus, Scout, dan Jem di Maycomb County (1)) ketika Scout melaporkannya padanya.

Kemudian, pada suatu waktu, Bibi Alexandra--adik Atticus--mengomentari cara berpakaian Scout. Scout memang lebih suka memakai pakaian overall (setelan baju dan celana), sementara menurut Bibi Alexandra, perempuan harus memakai rok. Bibi Alexandra berkata bahwa Scout "seharusnya menjadi cahaya mentari dalam kehidupan ayahnya yang sunyi" dan "berperilaku seperti berkas cahaya, bahwa Scout dilahirkan baik-baik, tetapi tumbuh semakin buruk setiap tahun". Scout merasa tersakiti dan ketika ia mengobrol dengan Atticus, beginilah jawaban Atticus yang dipaparkan oleh Scout.

"... dia berkata bahwa sudah ada cukup banyak cahaya matahari dalam keluarga kami dan aku boleh melanjutkan kegiatanku, dia tidak berkeberatan dengan aku yang seperti ini."

Menurutku, itu jawaban yang sangat manis dari seorang ayah. Atticus tidak pernah menggunakan emosi sedikit pun pada anak-anaknya. Ia mengajarkan anak-anaknya lewat cara-cara halus tapi berguna, pun ketika ia meminta Jem bertanggung jawab karena ia dengan sengaja merusak taman seorang wanita tua. Padahal Atticus juga tahu bahwa Jem melakukan itu semata-mata karena wanita tua itu menghina Atticus, dan Jem tidak terima. Tapi begitulah Atticus, ia tidak pernah mengajari anaknya untuk mendendam. Sekali pun tidak.

Bahkan kadang Atticus menanggapi sesuatu dengan tenang dan lucu ketika seseorang mengancamnya.

Atticus selalu menanamkan nilai-nilai yang baik pada anak-anaknya. Tentang menjadi diri mereka sendiri, tentang menghormati dan menghargai orang lain, tentang berlapang dada, dan sederet hal lainnya.

Oke. Kalau aku memaparkan semua detailnya di sini, tidak akan menarik ketika kalian membaca bukunya.

Lalu, bagaimana dengan Scout dan Jem? Mereka juga akan membuat kalian jatuh cinta, percayalah. Plot ketika Scout masuk ke tengah-tengah antara Atticus dan sekelompok lelaki yang berkonflik dengan Atticus--dengan niat untuk membantu ayahnya--kemudian mengobrol dengan mereka, dengan cara khas anak-anak, dan pada akhirnya benar-benar membuat gerombolan itu pergi.. Itu benar-benar menghangatkan perasaan. Juga ketika Jem mati-matian melindungi Scout yang berada dalam bahaya, meskipun ia tahu ia hanya sekadar anak-anak, itu juga menunjukkan betapa kuatnya ikatan di antara mereka.

Maka; bacalah, dan jatuh cintalah.

Membaca: Atticus, Jem, dan Scout di Maycomb County (1)




Bertahun-tahun lalu, aku menemukan sebuah tulisan di blog yang menyebutkan hal-hal semacam buku-dan-film-yang-bisa-menemani-liburanmu. Ada banyak sekali buku dan film yang disebutkan dalam artikel itu, tapi aku hanya mengingat sedikit. Salah satunya, novel To Kill A Mockingbird karya Harper Lee yang pertama kali diterbitkan tahun 1960. Untuk beberapa lama, membaca buku tersebut hanya sekadar angan-angan saja.

Liburan semester lalu, aku kemudian tahu bahwa salah satu temanku memiliki buku tersebut. Beberapa waktu kemudian aku akhirnya berkesempatan meminjamnya, dan kini aku sudah menamatkan buku tersebut.

Aku lupa berapa lama tepatnya aku meminjam buku tersebut. Cukup lama, karena pembacaan buku itu sempat disela oleh novel-novel lain. Kemudian, minggu lalu aku melanjutkan membaca (saat itu aku baru setengah membaca isinya, kurang lebih) dan hal tersebut selesai dalam beberapa hari saja. Kali ini, aku ingin membagikan sedikit catatan—bukan resensi—mengenai novel ini, tentang secuil cerita yang menggugah kecintaanku pada para tokohnya.

Aku tidak bertanya-tanya mengapa aku sempat berhenti sejenak membaca novel ini. Alur novel ini memang tampak lambat, meskipun sebenarnya tidak juga. Jadi, To Kill A Mockingbird diceritakan melalui sudut pandang Scout—nama panggilan Jean Louis Finch. (Aku lupa berapa usia Scout pada awal novel, mungkin delapan atau sembilan tahun?) Scout memiliki seorang kakak lelaki, Jem dan ayah bernama Atticus. Dalam bab-bab awal novel, aku masih meraba-raba, apa sebenarnya isi dari novel ini? Scout lebih banyak mengajak pembaca berkenalan dengannya, dengan Jem, dengan Atticus, juga dengan lingkungan tempat tinggalnya, termasuk sekolah.

Memang mengasyikkan berpetualang dengan anak-anak: Scout, Jem, dan Dill. Saat liburan musim panas, mereka bertiga melakukan hal-hal yang biasa dilakukan anak-anak: bermain, melakukan hal konyol, yang diikuti dengan rasa keingintahuan besar khas anak-anak. Tentang bagaimana mereka begitu penasaran dengan Boo Radley (Mr. Arthur, nama sebenarnya), tetangga Scout dan Jem yang tidak pernah keluar rumah. Tentang bagaimana mereka berusaha mengirimkan pesan-pesan ke rumah itu, atau sekadar masuk ke halaman dan mengetuk pintu. Bahkan suatu malam mereka bertiga mengendap-endap masuk ke rumah tersebut, ketahuan oleh salah satu pemilik rumah yang kemudian menembaki secara asal dengan senapan (senapan betulan) hingga celana Jem tersangkut dan ia lepaskan begitu saja. Tapi Jem kembali lagi pada tengah malamnya, mengambil celananya, dan menemukan fakta bahwa celananya telah dijahit tangan dan terlipat rapi di sana.

Juga tentang hari-hari Scout di sekolah. Alur cerita berawal dari ketika Scout mulai masuk ke sekolah dasar. Tahun itu, mungkin kemelekhurufan belum terlalu meluas seperti saat ini. Suatu kali, Scout diminta gurunya, Miss Caroline, untuk membaca alfabet yang dituliskan besar-besar di papan tulis. Scout tidak hanya bisa menyebutkan alfabet, tapi dia memang benar-benar bisa membaca bahkan termasuk kutipan pasar saham dari koran The Mobile Register. Miss Caroline rupanya tidak menyukai hal itu, dan ia bilang pada Scout agar ayahnya tak mengajarinya lagi karena itu mengganggunya membaca. Karena cara mengajar Atticus itu keliru. Yang kupikirkan, mungkin Miss Caroline merasa Scout belum waktunya bisa membaca seperti itu. Mungkin bagi Miss Caroline, Scout masih terlalu kecil untuk memiliki kemampuan itu.

Scout sedikit berdebat dengan Miss Caroline, tetapi pada akhirnya dia memilih diam. Diam karena ia tahu telah membuat gurunya marah. Lalu Scout merenung. Scout sebetulnya tidak pernah bermaksud belajar membaca. Ia bisa membaca karena Atticus sering membacakan apa yang ia baca; Scout akan duduk di pangkuan ayahnya lalu mendengarkan. Dan aku suka ketika Scout menyuarakan pikirannya seperti ini:
Sekarang, karena aku terpaksa memikirkannya, membaca adalah sesuatu yang kukuasai dengan sendirinya, seperti belajar memasang kancing belakang bajuku tanpa melihat ke belakang atau berhasil mengikat tali sepatu sendiri. Aku tak bisa ingat kapan garis-garis di atas gerak jemarin Atticus terpisah menjadi kata-kata, tetapi dalam ingatanku, aku menatapnya semalaman, sambil mendengarkan berita hari itu, Rancangan Undang-Undang yang Disahkan menjadi Undang-Undang, buku harian Lorenzo Dow--apapun yang kebetulan dibaca Atticus ketika aku meringkuk di pangkuannya setiap malam. Sampai aku takut aku akan kehilangan kegiatan ini, aku baru sadar kalau aku belum pernah gemar membaca. Bukankan orang tak pernah gemar bernapas? (halaman 35)
Itu pemikiran polos dan jujur dari seorang anak. Itu analogi sederhana dari seorang anak, membandingkan membaca dengan bernapas. Seolah membaca sudah menjadi kebutuhan—mengakar dalam diri; bukan hanya tuntutan, atau sekadar kegemaran yang diagungkan dalam kolom 'hobi' pada biodata. Tapi, bukankan memang kepolosan dan kejujuran itu lebih bisa mengetuk hati kita?

Scout tidak hanya berdebat mengenai hal itu dengan Miss Caroline. Lama-lama, ia menjadi enggan bersekolah. Suatu malam ketika Atticus mengajaknya membaca bersama, Scout bilang bahwa ia tak enak badan dan ia tak akan sekolah lagi kalau ayahnya tak keberatan. Atticus meminta Scout bercerita, lalu Atticus berkata demikian.
"Pertama-tama," katanya, "kalau kau bisa mempelajari suatu keterampilan sederhana, Scout, kau baru bisa bergaul lebih baik dengan berbagai jenis orang. Kau baru bisa memahami seseorang kalau kau sudah memandang suatu situasi dari sudut pandangnya—" (halaman 51)
 Setelah sejenak mengobrol dan Scout tetap kukuh karena ia takut tak boleh membaca bersama Atticus lagi jika ia bersekolah, Atticus mengajaknya berkompromi.
"Kau tahu artinya kompromi?" tanyanya.
"Membengkokkan hukum?"
"Bukan, kesepakatan yang dicapai dengan sama-sama mengalah. Caranya begini," katanya. "Kalau kau mengalah dan mengakui bersekolah itu perlu, kita akan terus membaca setiap malam setiap biasa. Setuju?" (halaman 53)
 Tentu saja Scout setuju. Itu yang diinginkannya—membaca bersama ayahnya setiap malam. Membaca di pangkuannya sampai ia mengantuk.

(foto: theodysseyonline.com)

Rahasia

Coba kamu timbang badan sini, ujar teman saya sore tadi. Saya menurut, apalagi saya sudah lama tidak menimbang berat badan. Angka 43.6 mmuncul di layarnya. Wah, begitu respon saya. Ternyata, berat badan saya tidak pernah naik sejak saya SMA. Saya kira, setidaknya ada cukup peningkatan, ternyata hanya segitu-segitu saja.

Dengan berat badan segitu, ketika tadi saya berada di atas motor dalam perjalanan ke rumah, angin musim hujan bisa dengan mudahnya menggoyangkan motor hingga sedikit membuat saya oleng. Tak lama, suara ketukan hujan di atas helm merah muda yang saya pakai memenuhi telinga saya. Deras sekali. Sementara, separuh jalan sedang direnovasi sehingga jalanan cenderung menjadi sempit. Saya berhenti sebentar, menyempatkan diri memakai jas hujan, lalu berkendara lagi.

Angin masih bertiup kencang dan sesekali menggoyangkan motor. Air hujan menusuk-nusuk tulang jemari yang semakin kaku. Leher saya dingin, karena ternyata saya lupa menaikkan hoodie jas hujan yang saya pakai. Tiba-tiba, pet! Listrik di seantero jalan, rumah di kanan-kiri, padam bersamaan. Jalanan sepi. Hanya ada beberapa kendaraan yang masih bertarung di jalanan. Takut? Ya. Bayangkan saja, kolaborasi antara derasnya hujan, angin kencang, guntur dan petir, kegelapan, kesunyian, dan kesendirian di jalanan, seolah terjebak di sana.

Semakin mendekati rumah, saya semakin lega. Apalagi saya bahkan bisa melihat sosok keluarga saya bahkan sebelum saya benar-benar turun dari motor. Akhirnya sampai, pikir saya. Kehangatan rumah benar-benar sesuatu yang saya butuhkan. Kami sekeluarga bermain onthong-onthong bolong dan cublak-cublak suweng, tertawa sepuasnya, sebelum akhirnya adik saya terlelap tidur.

Saya jadi ingat. Ada fenomena lucu yang kadang saya temukan dalam suatu kelompok. Orang-orang tertentu, yang pekerjaannya menuntut adanya interaksi dan dukungan dari yang lain, akan lebih ‘terlihat’ dibanding mereka yang jauh lebih rajin dan tanggung jawab pekerjaannya bertipe individual. Padahal, boleh jadi, orang pertama ini memberikan lebih sedikit dari apa yang orang kedua berikan diam-diam.

Itu mungkin hanya opini saja. Tapi, bukankah memang demikian? Orang lain tidak pernah benar-benar tahu apa yang telah kita lakukan. Apa yang kita perjuangkan. Sejauh mana kita tertatih, mengiba, lalu bangkit oleh diri sendiri. Rahasia itu akan tetap menjadi rahasia di depan kebanyakan orang. 

Ada celotehan beberapa teman saya yang kadang terngiang, yang bertanya, “Kamu nggak capek?” ketika ia tahu bahwa saya selalu menaiki kendaraan selama kurang lebih 45 menit hingga satu jam. Capek, tentu saja. Tidak perlu ditanyakan, jawabannya pasti ya. Tapi, banyak teman dekat saya yang lain, saking seringnya melihat saya dan berinteraksi bersama, dia jadi lupa tentang kondisi saya. Kadang, jadi muncul penyamarataan yang tidak semestinya.

Katanya, ini bagian dari perjuangan. Benar, dan saya bersyukur. Tapi, ada kalanya saya merasa tenaga saya terkuras. Maka, jangan heran kalau saya jarang bepergian. Jarang jalan-jalan. Karena toh, saya memang hampir selalu menolak ketika diajak. Salah satu alasan yang memang berasal dari diri saya sendiri adalah, saya ingin rehat sejenak dari kegiatan beradu dengan kendaraan lain di jalan. Saya ingin di rumah saja, mengikis waktu dengan melakukan aktivitas tidak penting seperti menonton film yang sama berulang-ulang atau membaca buku. Atau sekadar menjahili adik dan berada di tengah keluarga.

Begitu saja. Sesekali, saya memang hanya perlu ketenangan.

Meskipun, salah satu impian saya adalah jalan-jalan ke banyak tempak. Kelak.

***

“Kamu memangnya nggak ada uneg-uneg apa gitu?” tanya teman saya suatu sore. Saya jawab, saya ini tipe yang perlu dipancing dulu dengan tepat sebelum bisa bercerita semuanya.

Kalau kailnya nggak tepat sasaran, otak saya nggak jalan dengan baik.

Yang Telah Berlalu

Pukul 00.15 dan aku masih berada di depan laptop. Sebenarnya, beberapa jam yang lalu aku sempat terlelap karena listrik mati dan aku malas untuk berbuat apa-apa. Jadi, aku pun benar-benar tidur. Meskipun pada akhirnya, aku tetap terbangun juga karena masih ada hal-hal yang perlu diselesaikan malam ini terkait tugas kuliah dan tanggung jawab organisasi.

Omong-omong, sebelum nyawa belum genap terkumpul tadi, aku sempat berpikir, jadi sebenarnya apa yang aku punya? Hal apa yang kumiliki tapi tidak dimiliki kebanyakan orang sehingga bisa menjadi bekal nantinya? Semakin lama aku memikirkannya, semakin abu-abu jawaban yang muncul di kepalaku. Akhirnya, kuputuskan benar-benar bangun dan fokus pada apa yang perlu kuselesaikan, meskipun pertanyaan itu masih menggantung di benakku.

Minggu-minggu terakhir ini adalah minggu yang berat, sampai-sampai aku menumpahkan air mata di hadapan beberapa teman dan diam-diam menyeka buliran yang turun tanpa aba-aba agar tidak dilihat teman lain. Setidaknya, aku bersyukur masih ada orang-orang yang mau menyisakan waktunya untuk mendengar ocehanku lalu memberikan setumpuk saran dan masukan. Setidaknya, aku lega karena teman-teman yang ada kalanya menjadi sasaran kekesalanku ternyata juga masih peduli dan bersedia berjuang beriringan dan membangun tawa bersama.

Rasanya memang benar, tidak ada yang salah dengan adanya masalah. Justru hal itulah yang akan menggeser sekat pemisah yang selama ini mungkin berdiri tanpa disadari.

Walaupun, aku juga yakin bahwa adanya hal-hal kecil seperti ucapan semangat dan telinga yang siap mendengarkan apapun yang kita ujarkan merupakan anugerah.

Menjadi Asing dengan Zona Nyaman (2)


Kalau kamu pernah menonton serial Sherlock Holmes versi BBC, kamu pasti tahu Benedict Cumberbatch. Nah, Benedict Cumberbatch ini pernah bilang, “The further you get away from yourself, the more challenging it is. Not to be in your comfort zone is great fun.”

Setelah saya menaikkan tulisan ini, ada respon dari seorang teman. Katanya, bergerak di zona nyaman itu nggak masalah, karena semua orang punya jalan masing-masing.
Coba bayangkan, semua orang pengen jadi pemimpin. Terus siapa yang dipimpin? Yang perlu ditingkatkan sebenarnya adalah nafsu untuk mencapai visi hidup.
... komentarnya berat, kan, ya. Kebanyakan baca jurnal bahasa Jerman kayaknya.

Tapi, sebentar, mungkin persepsi soal zona nyaman kita belum sama?

Mungkin benar, memang tidak masalah jika tetap diam di tempat. Tidak apa-apa, tidak ada yang melarang. Namun, saya percaya, semakin kita mengeksplor diri, maka apa yang kita tahu juga semakin banyak. Ketika seseorang mau dan berani untuk menantang diri dengan hal baru, maka ia akan sadar betapa 'kecil'nya dirinya. Ada dunia baru yang akhirnya ia jelajahi, ada wajah baru yang ia temui, dan ada upaya diri untuk bisa survive di tengah-tengahnya hal-hal baru itu. Dan, begitulah caranya kepribadian seseorang bisa semakin berkembang.

Mungkin ini seperti Jared Grace yang tertantang untuk tetap mencari tahu fakta apa yang ada di balik buku Panduan Lapangan Arthur Spiderwick meskipun dia mendapatkan banyak masalah, atau seperti Percy, Annabeth, dan Grover yang turun masuk ke dalam labirin karena ada yang mereka perjuangkan, meskipun belum tentu mereka akan berhasil mendapatkannya.

Kalau dikaitkan dengan kepemimpinan, sebenarnya saya nggak melihat relevansinya. Nggak semua orang punya ambisi untuk jadi pemimpin, tapi bukan berarti orang itu nggak perlu keluar dari zona nyamannya. Tapi, ya, setiap orang punya jalan masing-masing. Masa depan memang jadi misteri, bukan? Seperti halnya jodoh. Eh...

Anyhow, jadi intinya adalah, saya tengah mencoba dan merancang berbagai hal baru untuk saya lakukan. Challenging myself. Beberapa sudah berjalan, beberapa masih berupa rencana. Hasilnya? Saya bisa mengasah sekaligus mengukur kemampuan dan pengetahuan saya. Saya sadar nggak mudah untuk menumbuhkan kemauan diri untuk menyelesaikan suatu hal. Saya sadar betapa banyak kenaifan yang saya miliki. Terdepak oleh realitas saja bisa jadi melempem. Kamu tahu, proses pemulihan diri itu nggak mudah, lho..

Namun, saya menghargai proses. Mungkin beginilah cara untuk menjadi dewasa. Kalaupun tidak demikian, setidaknya saya sudah mencoba.

Memanajemen waktu juga menjadi proses yang menantang, karena baru beberapa hari masuk kuliah saja, kami--mahasiswa sejurusan--sudah disambut dengan sederet judul-judul buku (beberapa dosen menyebutnya 'kitab suci') yang wajib dibaca dan akan dibahas di kelas (lalu dompet pun semakin sulit bernapas karena sering fotokopi). Saya jadi salut dengan kawan-kawan lain yang bisa mengoptimalkan skala prioritasnya di tengah kesibukan yang mereka miliki. Kalian terbaeq!

Nah, jadi apa kamu juga sedang menantang dirimu? Apapun yang sedang kamu lakukan, jangan patah semangat, ya. Selamat berjuang!

(foto: britishexploring.org)

Menjadi Asing dengan Zona Nyaman (1)

Menjadi anak sulung tidak lantas membuatku menjadi sosok yang bisa sangat ramah pada anak-anak. Sejauh ini ya... biasa saja. Aku tetap marah-marah pada adik. Aku tetap menjahili mereka. Tapi, aku juga tetap berusaha mengajari hal-hal baik pada mereka.

Saat berada di semester 2, aku dan teman-temanku pernah berkumpul di suatu tempat—berniat mencari lokasi salah satu kegiatan sosial (yang fokus pada anak-anak) yang ada di Semarang. Kami menghubungi kontak yang tertera, tapi sayangnya kami mendapat respon yang sangat lama, dan saat itu kami benar-benar tidak tahu tempat mana yang harus kami tuju. Pada akhirnya, kami hanya berfoto-foto dan mengobrol. Itu saja.

Niat kami saat itu sederhana: ingin sesekali menjadi bermanfaat bagi orang lain.

Akhir 2015, aku berkesempatan mewujudkan harapan itu. Aku menjadi relawan pengajar Vertihori untuk program Masuk Kelas 2, sebuah gerakan yang bertujuan untuk menginspirasi anak-anak. Kegiatannya menarik, meskipun proyek itu dijalankan secara singkat—hanya satu hari bersama anak-anak. Kupikir, kenapa tidak?

Setelah diterima menjadi relawan pengajar, aku baru sadar bahwa tak ada satu pun orang yang kukenal di sana. Pengurus tidak, relawan pun tidak. Alhasil, aku benar-benar merasa seperti 'orang baru' saat berkumpul bersama-sama, sementara teman-teman yang lain paling tidak sudah mengenal satu dua orang.

Terhitung, kami hanya bertemu dan berinteraksi langsung selama dua hari. Tapi, kurasa secara keseluruhan, kami sudah semaksimal mungkin untuk menjadi dekat satu sama lain dan menyukseskan proyek tersebut bersama-sama. Dan itu menyenangkan. Aku berkenalan dengan orang-orang baru (tanpa perlu menempel dengan satu dua orang yang sudah aku kenal sebelumnya). Aku berinteraksi dengan anak-anak di kelas, mengajak mereka mengobrol soal cita-cita, bermain, lalu—yang paling anak-anak suka—membagikan jajanan. Tidak mudah memang. Ada yang mengobrol, ada yang jalan-jalan karena penasaran dengan pita warna-warni yang dibawa kakak-kakak, bahkan ada pula yang sempat bertengkar. Ada pula yang antusias, ada yang duduk tenang mendengarkan, dan ada yang pandai menghidupkan suasana kelas. Wah, rasanya jadi kembali ke masa kanak-kanak. Bukannya menginspirasi, malah rasanya aku yang terinspirasi karena keceriaan anak-anak di kelas. 

Lalu, kupikir, ternyata begitulah rasanya keluar dari zona nyaman. Itu hanya salah satu cara dari sekian banyak jalan yang bisa kutempuh.

Apabila mengingat apa saja yang sudah kulakukan setelah masuk ke universitas, aku pikir aku tidak melakukan hal yang istimewa. Kesibukanku hanya seputar kuliah dan organisasi. Teman-teman yang kupunya pun hanya itu—teman sejurusan dan teman organisasi. Mungkin ditambah satu dua orang dari jurusan lain. 

Aku merasa punya kesibukan, tapi lama-lama aku sadar bahwa mungkin aku hanya sedang berusaha menyibukkan diri. Lari dari hal-hal yang seharusnya bisa kucapai, tapi masih sekadar menjadi angan-angan.

Di saat temanku yang lain sudah menjejakkan kaki di tanah seberang, aku masih di kota ini. Di saat temanku mengangkat piala kemenangannya, aku cuma bisa melihat fotonya dan memberikan selamat. Di saat temanku menceritakan keaktifannya dengan kegiatan keren ini itu, aku hanya bisa mendengarkan dan mendukung.


Padahal ... sudah bukan saatnya diam dipelihara, bukan?