Showing posts with label #30HariMenulisSuratCinta. Show all posts
Showing posts with label #30HariMenulisSuratCinta. Show all posts

Hello

Hari itu barangkali hampir tiga tahun yang lalu.

Aku masih ingat detailnya. Kamu duduk di sudut kelas, meringkuk seolah-olah menghabiskan sepanjang malammu untuk suatu pekerjaan yang lebih penting (dan ternyata memang selalu seperti itu). Kamu lalu bangun, dengan muka setengah mengantuk menanyakan beberapa hal tentang kelas baru kita. Saat, itu aku tidak terlalu menganggapmu istimewa. Aku bahkan tidak menyangka kita akan menjadi teman dekat.

Belakangan, aku jadi tahu banyak hal tentangmu. Aku tahu kalau malam-malammu lebih sering kamu habiskan untuk bekerja. Aku tahu tentang kegemaranmu. Aku tahu bahwa rumahmu yang paling sering menjadi basecamp teman-teman. Aku tahu sifat-sifatmu, termasuk fakta kalau kamu suka menggodaku. Aku tahu kalau kamu jago di beberapa bidang yang kamu suka. Aku tahu.

Tuan Pencinta Buku

Selamat (menjelang) senja, Tuan.

Di saat seperti ini, biasanya kamu akan menutup bukumu, menyesap tegukan terakhir dari kopi yang menemanimu, lalu beranjak pergi. Itu kalau kamu sedang tidak sibuk; saat kamu ada waktu untuk menikmati senja bersama bacaan kesukaanmu.

Orang bilang, hobi yang sama bisa mendekatkan dua orang. Barangkali itu yang terjadi pada kita. Aku suka buku, pun denganmu. Kamu mengenalkanku pada buku-buku nonfiksi, novel misteri, dan detektif. Aku mengajakmu bertemu dengan novel-novel fantasi, roman, komedi, dan komik. Lihatlah, siapa yang dulu menganggap fantasi itu 'terlalu mengada-ada' tetapi saat ini justru cinta mati dengan bacaan itu? Siapa yang dulu mencela komik, tetapi sekarang malah tidak pernah melewatkan satu pun komik terbaru dari serial Detective Conan?

Bianglala


Aku selalu suka bianglala. Tetapi, kamu tidak.

Kamu bilang, kamu selalu gugup menaiki wahana itu. Kemegahan dari bianglala tidak kamu suka. Kamu takut ketinggian. Aku tahu itu.

Meskipun begitu, aku juga tahu bahwa kamu bukan orang yang mau ditaklukan oleh rasa takutmu. Katamu, ketakutan itu untuk dihadapi, bukan dijaga. Maka, hari ini, ketika kita berdua duduk berhadapan di dalam bianglala, aku hanya tertawa kecil melihatmu menengok ke bawah dengan perlahan, lalu bertanya, "Setinggi apa kita?"

"Setinggi keberanianmu," jawabku.