konstelasi bintang
tidak ada penunjuk arah yang menjadi panduanku. segala sesuatu tampak fana sebagai anomali perasaanku belaka. yang direngkuh oleh mataku hanyalah hamparan padang pasir tak terbatas, yang memupuk dahagaku tentangmu. lagi dan lagi. tak ada oasis, pun sabana.
sebagaimana rasi bintang yang berhasil menjadi petunjuk arah bagi para pendahulu, aku pun berharap zaman ini tidak banyak berubah. dengan begitu, aku bisa melakukan hal yang sama. aku mencari-cari utara dan selatan. aku mencari-cari pada sudut dan derajat yang semestinya.
tapi, konstelasi bintang tujuh di langit yang pekat bersinar terlalu terang. rasi biduknya mengejekku. seolah menyeru dan mencibirku. katanya, karena aku sedang menuankan diri dan menadbirkan perasaan. padahal, persoalan hati tidak bisa direncakanan.
seberapa pun aku memahami arah, ternyata aku tidak bisa lari. orbitku tetap sama.
kamu menarikku dengan gravitasi milikmu yang tak tampak di mataku. menstabilkan aku dari luncuran cepat yang bergerak ke segala arah. aku berputar. garis edarku mengitarimu. dan kamu melengkungkan ruangan.
sementara aku terjebak di dalamnya.
Meleburkan Jarak
![]() |
| (ilustrasi: Yelena Bryksenkova) |
Mungkin juga kamu membuka gawaimu, menghubungi orang-orang yang kamu rindukan, siapa pun itu. Bahkan, kamu juga bisa saja sedang bepergian ke tempat lain, tahu bahwa Agustinus sang filsuf pernah berkata, "Dunia ini bagaikan sebuah kitab, dan mereka yang tidak melakukan perjalanan hanya membaca satu halamannya saja." Kamu tidak pernah mau membaca hanya satu halaman, bahkan satu buku tak cukup buatmu.
Ada hal yang amat aku yakini. Pada dua orang yang terpisah jarak, jika memang mereka kelak harus bertemu, maka serta-merta semesta akan mendorong keduanya berada pada satu titik yang sama. Di suatu tempat, pada suatu waktu. Tak peduli tak pernah ada rindu yang terucap. Tak masalah tak pernah ada janji pertemuan yang diutarakan. Karena ternyata, entitas terdalam hati manusia terkadang tak terlihat di depan mata, tak terdengar di telinga, tak tersentuh oleh jemari.
Maka, apabila pertemuan itu hadir, aku akan menyambutnya. Menikmati setiap detik yang bergulir. Pun ketika aku meleburkan jarak denganmu.
Titik Nol
Maka, inilah, setelah penantian panjang berbulan-bulan, setelah malam-malam yang kamu habiskan untuk menunaikan tanggungan dan bergelut dengan setumpuk teori, kini kamu bisa bernapas lega karena tuntaslah satu kewajibanmu.
Barangkali, ini tampak seperti akhir dari perjalanan. Ada riak-riak perjuangan yang telah kamu tapaki, ada milyaran detik yang berlalu, dan ada tepuk kebanggaan yang menyiratkan keberhasilan. Namun, kabarnya, ini juga merupakan titik di mana kamu akan memulai segenap hal baru.
Sebelum menuju tiap kilometer yang akan kamu tempuh, maka inilah titik nol perjalananmu. Ada dunia baru yang menunggu untuk kamu singkap tabirnya. Ada pilihan-pilihan yang barangkali akan mengetuk pintumu lalu menepuk pundakmu untuk berebut menarik perhatian.
Tidak ada orang lain yang lebih mengerti dirimu selain kamu sendiri. Maka, ikutilah kata hatimu, jadilah apapun yang kamu inginkan. Kata Pram, "Kau terpelajar. Cobalah bersetia pada kata hati."
Teruslah merasa haus akan ilmu, atau mengabdilah. Jelajahi setiap sudut tanah ini lalu temui jerih payah masyarakat, melodi tawa anak-anak, dan orang-orang yang akan menyentil pemikiran naif selama ini. Perluas cakrawala untuk hari ini dan seterusnya, bahkan hingga ratusan purnama berlalu. Penuhi setiap angan-angan dan rencanamu untuk ke depan dengan caramu sendiri. Kamu bebas menentukannya.
... asal jangan lupa, ada rumah yang selalu menunggumu untuk pulang.
Selamat meraih cita-cita, kamu yang tengah berpakaian putih-hitam!
Yang Lebih Rindu
Kadang-kadang, aku menduga-duga apa yang sedang kamu lakukan. Mungkin, kamu sedang sibuk dengan kegiatan rutinmu. Mungkin, kamu sedang duduk diam di depan ponselmu sambil berdiskusi dengan teman-temanmu. Itu hanya secuil kemungkinan.
Di lain waktu, aku akan terlalu sibuk melakukan banyak hal hingga tak ada waktu untuk sekadar berandai-andai.
Bodohnya, itu terjadi begitu saja meski aku tahu seharusnya aku tidak boleh membuang-buang waktu seperti itu. Tapi, tenang saja, aku tak akan banyak mengganggumu.
Jadi, kamu sedang apa hari ini? Coba ceritakan. Aku tidak bisa bercerita, jadi aku akan lebih banyak mendengarkan. Aku tahu, aku hanya seorang pendengar. Aku tahu, aku tak lebih dari sekadar tukang ketik dan tukang baca, bukan seseorang yang bisa membuatmu jatuh cinta.
: karena akulah yang telah jatuh.
Nah, maka, jelas sudah. Siapa yang lebih rindu?
Obrolan Sore
Kamu apa kabar? Waktumu luang sore ini? Jika iya, mari berbicara tentang hati.
Kamu tahu, bertahun-tahun aku hidup dan menjejakkan kakiku di bumi, aku telah menemui banyak orang. Semuanya hadir dengan keistimewaan masing-masing.
Tidak ada yang sempurna. Pun, dengan laki-laki yang datang. Hei, aku hanya perempuan biasa yang sesekali bertanya-tanya, siapa lelaki yang akan hadir di masa depanku kelak?
Kuberitahu satu hal. Perempuan boleh saja mengagumi aktor tampan dengan figur sempurna yang ada di televisi, tapi kualitas yang dicarinya bukanlah yang seperti itu. Kataku, itu hanya sekadar selingan semu. Kata temanku, lelaki tampan bukan untuk dijadikan pendamping hidup.
Tentu saja, bukan berarti perempuan akan menjauhi para laki-laki yang dianugerahi wajah di atas rata-rata. Tapi, ada kualitas lain yang berada jauh di atasnya. Ada, banyak. Aku kira, kamu sudah pasti memahami itu.
Kalau kamu, laki-laki, sedang dalam perjalanan untuk menemukan tempatmu berlabuh, maka teruslah berusaha untuk menjadi orang yang bisa diandalkan... dalam banyak hal. Nah, kelak, kalau kamu menemukan seseorang yang kamu yakini akan menjadi pelengkapmu, kamu sudah punya bekal. Maka, ketika tiba saatnya kamu menemui walinya, tak akan keraguan sedikitpun dari beliau untuk menerimamu.
Bukankah perkara paling sulit adalah membuat wali jatuh cinta padamu?
: selamat berusaha, kamu.
Jika Maka
Navigasi
The Corner of the Room
![]() |
Lima Huruf
lima huruf itu disebut rumah. r-u-m-a-h. aku tak tahu apa artinya.
Lelaki yang Berbahagia
Orang-orang bilang, tempat ini sempurna. Dinding-dindingnya dipenuhi lukisan artistik yang membuat seseorang betah berlama-lama memandangnya, ada dekorasi bergaya retro yang membubuhkan aroma tua, dan ada alunan musik yang selalu memanjakan telinga. Setidaknya, begitulah kata orang.
Ini bukan kali pertamamu ke tempat ini. Biasanya, kamu hanya sendiri, atau ditemani teman-temanmu, lalu beramai-ramai mengobrol tentang hal-hal ringan hingga topik serius. Biasanya, kamu tidak terlalu memerhatikan detail di sekelilingmu. Sekali ada tempat yang membuatmu betah, kamu akan menambahkannya dalam daftar tempat yang sewaktu-waktu akan kamu kunjungi kembali; hanya demikian, begitu sederhana, tanpa menilik hal-hal kecil lain.
selamat ulang tahun
Aroma Masa Lalu
Jika Kamu Bosan Menunggu
Pulang
Meramu Rindu
Sauh
Saat ini, barangkali, ombak di pantai sedang meleburkan dirinya pada dinding karang. Lalu, sang elang bermata tajam yang sibuk menukik mangsanya di kala siang, sedang bersua bersama elang lain di tempat rahasianya.
Dan kamu, Tuan;
merangkak di persinggahanmu.
The Lucky One
Aku patah hati. Baru pertama kali ini aku benar-benar menyukai seseorang, tapi aku langsung patah hati.
Ada Aku, di Sampingmu
| foto: asmithblog.com |
Ada aku di sampingmu, siap mendengar berjuta ocehan lucumu tentang hal-hal yang menarik bagimu. Aku tahu tahapannya; Kamu akan menggandeng tanganku menuju spot favoritmu (kamu selalu punya spot favorit, entah di manapun kita berada), melepasnya, kemudian kedua matamu akan berbinar-binar semangat. Sudut-sudut bibirmu akan tertarik ke atas, membentuk senyum tulus. Lalu, kamu akan bercerita, dan aku tidak boleh menyela. Kecuali kamu bertanya padaku di tengah-tengah cerita. Selalu begitu.
Rain: Kamu Masih Ingat?
Biasanya, pandangan pertama itu menipu. Tetapi tidak denganmu. Karena nyatanya kau benar-benar menarik.












