Showing posts with label particle. Show all posts
Showing posts with label particle. Show all posts

pelukan


pelukanmu adalah hal terhangat yang pernah kudapatkan selain perhatian ibu. rasanya, aku seolah bisa membenamkan seluruh gelisah dan cemas dalam pikiranku, lalu aku diguyur oleh ketenangan yang melimpah olehmu.

pelukanmu adalah hal ternyaman yang ku miliki selain waktu-waktu yang aku gunakan untuk mencintai diriku sendiri. begitu erat, menyenangkan, dan memabukkan—sampai-sampai aku tidak sadar kita berdua bertumpu pada kaki dan berdiri begitu lama. rasanya, aku bisa memejamkan mata dan tertidur dalam pelukmu.

yang ada dalam pikiranku hanyalah kamu, tubuhmu, dan aromamu. dan aku luruh karenanya.

kamu memelukku erat, dalam waktu yang diam-diam kuharap berhenti sejenak. agar aku bisa berada dalam pelukanmu lebih lama, tanpa khawatir memikirkan detik-detik yang ada.

detak jantungmu dan detak jantungku yang saling bertalu-talu hanyalah sepotong bukti bahwa ada dua hati yang saling mencintai.

konstelasi bintang

aku pernah menempuh perjalanan jauh demi usaha melupakanmu.

tidak ada penunjuk arah yang menjadi panduanku. segala sesuatu tampak fana sebagai anomali perasaanku belaka. yang direngkuh oleh mataku hanyalah hamparan padang pasir tak terbatas, yang memupuk dahagaku tentangmu. lagi dan lagi. tak ada oasis, pun sabana.

sebagaimana rasi bintang yang berhasil menjadi petunjuk arah bagi para pendahulu, aku pun berharap zaman ini tidak banyak berubah. dengan begitu, aku bisa melakukan hal yang sama. aku mencari-cari utara dan selatan. aku mencari-cari pada sudut dan derajat yang semestinya.

tapi, konstelasi bintang tujuh di langit yang pekat bersinar terlalu terang. rasi biduknya mengejekku. seolah menyeru dan mencibirku. katanya, karena aku sedang menuankan diri dan menadbirkan perasaan. padahal, persoalan hati tidak bisa direncakanan.

seberapa pun aku memahami arah, ternyata aku tidak bisa lari. orbitku tetap sama.

kamu menarikku dengan gravitasi milikmu yang tak tampak di mataku. menstabilkan aku dari luncuran cepat yang bergerak ke segala arah. aku berputar. garis edarku mengitarimu. dan kamu melengkungkan ruangan.

sementara aku terjebak di dalamnya.


Meleburkan Jarak

(ilustrasi: Yelena Bryksenkova)

Suatu kali, ada yang bertanya
: apa yang lebih romantis daripada berteduh bersama saat hujan turun?

Aku bilang, meleburkan jarak. Sebab menurutku pertemuan adalah hal teristimewa yang pernah terjadi.

Kamu boleh saja beratus-ratus kilometer jauhnya dari sini, sedang makan bersama teman-temanmu, atau mungkin lembur mengerjakan apa yang menjadi tanggung jawabmu. Sementara aku kini duduk di depan laptop, menyibukkan diri.

Kamu barangkali tengah berada dalam suatu diskusi yang dikelilingi atmosfer tegang dari para pesertanya, lalu kamu menghela napas sejenak, minum, dan berusaha mengendalikan situasi. Atau mungkin, kamu sedang menyelonjorkan kedua kaki, melesapkan lelah dari tubuhmu. Menjauhkan dirimu dari ingar-bingar kota yang mengharu biru.

Mungkin juga kamu membuka gawaimu, menghubungi orang-orang yang kamu rindukan, siapa pun itu. Bahkan, kamu juga bisa saja sedang bepergian ke tempat lain, tahu bahwa Agustinus sang filsuf pernah berkata, "Dunia ini bagaikan sebuah kitab, dan mereka yang tidak melakukan perjalanan hanya membaca satu halamannya saja." Kamu tidak pernah mau membaca hanya satu halaman, bahkan satu buku tak cukup buatmu.

Ada hal yang amat aku yakini. Pada dua orang yang terpisah jarak, jika memang mereka kelak harus bertemu, maka serta-merta semesta akan mendorong keduanya berada pada satu titik yang sama. Di suatu tempat, pada suatu waktu. Tak peduli tak pernah ada rindu yang terucap. Tak masalah tak pernah ada janji pertemuan yang diutarakan. Karena ternyata, entitas terdalam hati manusia terkadang tak terlihat di depan mata, tak terdengar di telinga, tak tersentuh oleh jemari.

Maka, apabila pertemuan itu hadir, aku akan menyambutnya. Menikmati setiap detik yang bergulir. Pun ketika aku meleburkan jarak denganmu.

Titik Nol

Seperti air yang berujung pada muara, maka begitulah setiap perjalanan itu terwujud.

Maka, inilah, setelah penantian panjang berbulan-bulan, setelah malam-malam yang kamu habiskan untuk menunaikan tanggungan dan bergelut dengan setumpuk teori, kini kamu bisa bernapas lega karena tuntaslah satu kewajibanmu.

Barangkali, ini tampak seperti akhir dari perjalanan. Ada riak-riak perjuangan yang telah kamu tapaki, ada milyaran detik yang berlalu, dan ada tepuk kebanggaan yang menyiratkan keberhasilan. Namun, kabarnya, ini juga merupakan titik di mana kamu akan memulai segenap hal baru.

Sebelum menuju tiap kilometer yang akan kamu tempuh, maka inilah titik nol perjalananmu. Ada dunia baru yang menunggu untuk kamu singkap tabirnya. Ada pilihan-pilihan yang barangkali akan mengetuk pintumu lalu menepuk pundakmu untuk berebut menarik perhatian.

Tidak ada orang lain yang lebih mengerti dirimu selain kamu sendiri. Maka, ikutilah kata hatimu, jadilah apapun yang kamu inginkan. Kata Pram, "Kau terpelajar. Cobalah bersetia pada kata hati."

Teruslah merasa haus akan ilmu, atau mengabdilah. Jelajahi setiap sudut tanah ini lalu temui jerih payah masyarakat, melodi tawa anak-anak, dan orang-orang yang akan menyentil pemikiran naif selama ini. Perluas cakrawala untuk hari ini dan seterusnya, bahkan hingga ratusan purnama berlalu. Penuhi setiap angan-angan dan rencanamu untuk ke depan dengan caramu sendiri. Kamu bebas menentukannya.

... asal jangan lupa, ada rumah yang selalu menunggumu untuk pulang.

Selamat meraih cita-cita, kamu yang tengah berpakaian putih-hitam!

Yang Lebih Rindu

Ada banyak senja yang kita lewati tanpa bersua satu sama lain.

Kadang-kadang, aku menduga-duga apa yang sedang kamu lakukan. Mungkin, kamu sedang sibuk dengan kegiatan rutinmu. Mungkin, kamu sedang duduk diam di depan ponselmu sambil berdiskusi dengan teman-temanmu. Itu hanya secuil kemungkinan.

Di lain waktu, aku akan terlalu sibuk melakukan banyak hal hingga tak ada waktu untuk sekadar berandai-andai.

Bodohnya, itu terjadi begitu saja meski aku tahu seharusnya aku tidak boleh membuang-buang waktu seperti itu. Tapi, tenang saja, aku tak akan banyak mengganggumu.

Jadi, kamu sedang apa hari ini? Coba ceritakan. Aku tidak bisa bercerita, jadi aku akan lebih banyak mendengarkan. Aku tahu, aku hanya seorang pendengar. Aku tahu, aku tak lebih dari sekadar tukang ketik dan tukang baca, bukan seseorang yang bisa membuatmu jatuh cinta.
          : karena akulah yang telah jatuh.

Nah, maka, jelas sudah. Siapa yang lebih rindu?

Obrolan Sore

Kamu apa kabar? Waktumu luang sore ini? Jika iya, mari berbicara tentang hati.

Kamu tahu, bertahun-tahun aku hidup dan menjejakkan kakiku di bumi, aku telah menemui banyak orang. Semuanya hadir dengan keistimewaan masing-masing.

Tidak ada yang sempurna. Pun, dengan laki-laki yang datang. Hei, aku hanya perempuan biasa yang sesekali bertanya-tanya, siapa lelaki yang akan hadir di masa depanku kelak?

Kuberitahu satu hal. Perempuan boleh saja mengagumi aktor tampan dengan figur sempurna yang ada di televisi, tapi kualitas yang dicarinya bukanlah yang seperti itu. Kataku, itu hanya sekadar selingan semu. Kata temanku, lelaki tampan bukan untuk dijadikan pendamping hidup.

Tentu saja, bukan berarti perempuan akan menjauhi para laki-laki yang dianugerahi wajah di atas rata-rata. Tapi, ada kualitas lain yang berada jauh di atasnya. Ada, banyak. Aku kira, kamu sudah pasti memahami itu.

Kalau kamu, laki-laki, sedang dalam perjalanan untuk menemukan tempatmu berlabuh, maka teruslah berusaha untuk menjadi orang yang bisa diandalkan... dalam banyak hal.  Nah, kelak, kalau kamu menemukan seseorang yang kamu yakini akan menjadi pelengkapmu, kamu sudah punya bekal. Maka, ketika tiba saatnya kamu menemui walinya, tak akan keraguan sedikitpun dari beliau untuk menerimamu.

Bukankah perkara paling sulit adalah membuat wali jatuh cinta padamu?

       : selamat berusaha, kamu.

Jika Maka



Jika tadi kita bertemu, maka aku akan menawarkan diri untuk menemanimu pergi ke tempat-tempat yang ingin kamu kunjungi akhir-akhir ini. Pameran buku, galeri seni, bioskop, taman kota, atau tempat lain, aku bersedia pergi ke sana. Cukup kita berdua. Barangkali, di sana kamu akan memperkenalkanku pada buku-buku yang menarik untukmu, film yang kamu suka, atau lukisan terbaik di galeri. Kemudian, percakapan ringan akan terbangun di antara kita, diselingi lelucon darimu. Sudut bibirmu akan tertarik ke atas, menyunggingkan senyum yang rupanya tak pernah kulupa.

Navigasi


 

Aku ingin bertanya pada ahli kapal laut atau kapal terbang, tentang bagaimana ia menempatkan haluannya ke arah yang tepat. 

Dalam film yang pernah aku tonton, pesawat memiliki aneka macam tombol dan tuas dengan fungsi masing-masing. Tuas penerbangan, tuas flap, ketinggian pesawat, angka knot kecepatan, adalah beberapa hal yang mereka perhatikan. Bahkan, para ahli itu memiliki istilah khusus yang mereka ungkapkan dalam penerbangan. Pun demikian dengan kapal laut, barangkali. Pasti sulit mengemudikan benda besar itu, bukan?

The Corner of the Room

https://41.media.tumblr.com/tumblr_m8msawH75x1rddc45o1_500.jpg


That I know you is an entity letting me to see through deep down plenty of things. I remembered that you have already poisoned me to like what you love or to do what you want. I think as long as it is a good thing, then OK. Yet, you don’t stop until now. You are the one who can interfere with my life like this, and the one whom I permit to do such things.

Thus, I am happy.

Rarely did I listen to music. I was getting along with a bunch of works all day long or just being busy with movies. Then, you introduce me with bands and singers that you like and fulfilled my playlist with those items AND push me to hear. I don’t know whether we have same characteristics or what, but those are awesome. I am grateful.

Lima Huruf



lima huruf itu disebut rumah. r-u-m-a-h. aku tak tahu apa artinya.


orang bilang, rumah adalah tempat kamu pulang. tempat di mana kamu bisa menemukan kehangatan, bahkan tanpa perlu ada perapian sekecil apapun. di sana, ada canda dan tawa. ada cinta dan kedamaian. ada keluarga.

mereka juga bilang, rumah adalah bahagiamu. karena kamu bisa merasakan cinta, begitu katanya. hm, aku bahkan juga tak sepenuhnya paham mengenai makna cinta. pernah ada yang bertanya padaku, apa cinta bagiku? cinta itu bahagia, jawabku. barangkali kamu berpikir kenyatannya tidak demikian. benar, terserah kau saja. itu hanya harapanku, sejujurnya.

Lelaki yang Berbahagia




Orang-orang bilang, tempat ini sempurna. Dinding-dindingnya dipenuhi lukisan artistik yang membuat seseorang betah berlama-lama memandangnya, ada dekorasi bergaya retro yang membubuhkan aroma tua, dan ada alunan musik yang selalu memanjakan telinga. Setidaknya, begitulah kata orang.

Ini bukan kali pertamamu ke tempat ini. Biasanya, kamu hanya sendiri, atau ditemani teman-temanmu, lalu beramai-ramai mengobrol tentang hal-hal ringan hingga topik serius. Biasanya, kamu tidak terlalu memerhatikan detail di sekelilingmu. Sekali ada tempat yang membuatmu betah, kamu akan menambahkannya dalam daftar tempat yang sewaktu-waktu akan kamu kunjungi kembali; hanya demikian, begitu sederhana, tanpa menilik hal-hal kecil lain.

selamat ulang tahun



usiamu telah bertambah. kamu bukan sekadar anak-anak maupun remaja lagi. kini, kamu semakin matang menapaki laluan hidup. kepadamu, aku ingin berkata bahwa kamu bisa menjadi apapun yang kamu inginkan. 

tentu aku akan mendukungmu untuk melakukan apapun yang kamu mau; dan kamu suka. aku tidak mau jika kelak kamu mengorbankan apa yang kamu cintai demi sesuatu yang tak akan membuatmu bahagia.

kamu tidak perlu memaksakan diri, cukup berusaha dan berdoa saja. kamu tak perlu mengejar kesempurnaan, karena sempurna ialah delusi belaka.

Aroma Masa Lalu



Serupa kopi pertamamu pada pagi hari ini, begitulah rupa masa lalu yang ingin kau kubur sedalam mungkin: pahit, tetapi candu yang manis. Kafeinnya telah menyelami dirimu, tak akan pergi bahkan meskipun kau usir.

Serupa kopi pertamamu pada pagi hari ini, begitulah aroma masa lalu yang ingin kau musnahkan: wangi, namun memabukkan. Ada kepingan yang membahagiakanmu, tetapi lebih banyak yang membuatmu lara.

Bagaimanapun juga, hitamnya potongan kenangan itu berusaha kau enyahkan. Terlalu menyakitkan, katamu. Bahkan untuk memilikinya pun kau enggan.

Jika Kamu Bosan Menunggu



Jika kamu bosan menunggu, ingatlah bahwa ini merupakan salah satu proses demi mencapai bahagia di masa depan. Jatuh cintalah, simpanlah perasaan itu, lalu sampaikanlah doa-doamu kepada Tuhan. Biarkan saja orang lain bilang bahwa menunggu itu melelahkan. Tak usah pedulikan mereka.

Jika kamu bosan menunggu, perbaikilah dirimu. Lakukan hal yang kamu senangi; memperdalam ilmu, mengasah kemampuan, mengontrol diri, atau apapun yang kamu inginkan. Mari sibukkan diri dengan hal-hal positif. Tak perlu sibuk berkeluh-kesah di mana-mana.

Jika kamu bosan menunggu, lihatlah sekelilingmu. Mungkin orang yang kamu tunggu belum juga tiba karena orang tuamu masih membutuhkanmu. Mungkin memang belum saatnya ia datang. Bersabarlah. Tak perlu kamu berkecil hati.

Pulang


Kamu sedang dalam perjalanan pulang.

Rintik gerimis masih berlomba turun. Kamu berdiri di tepi jalan, tanpa payung atau peneduh apapun. Tas ransel hitam bersandar di punggungmu, berharap bisa menahan laju air agar tak membasahi apapun yang ada di dalamnya.

Kamu mengamati lalu lalang kesibukan di depanmu. 

Satu dua kendaraan yang lewat tak sengaja membuat kecipak genangan air hujan memercik ke arah sepatu kets biru tua yang masih menjadi favoritmu. Bercak kecokelatan terlihat. Kamu mundur perlahan. Namun, kamu tetap setia mengamati sekitarmu.

Kamu menunggu.

Meramu Rindu


Rinduku adalah kamu. Ia melangut tanpa memperhatikan waktu. Ia selalu ada, dalam satu hari, satu menit, satu detik, bahkan hingga kamu tak kuasa menghitungnya lagi. 
 
Tanpa pengharapan, rasa ini bersemai; ia membuatku bisu, gagu, dan gagap akan gegap gempitanya manusia-manusia yang sedang bergembira menyelami waktu. Di sana mereka ada, di sini mereka ada. Namun, di mataku, hanya ada sosok kamu. Ada, tapi tak tergapai.

Rinduku melarut hingga cair. Ia bergerak mengikuti ke manapun aku menjejakkan kaki. Suara-suara tak berwujud seolah mencemooh. Rasakan bagaimana rindu itu menyelimutimu, membungkusmu dalam keputusasaan, katanya.

Sauh

Malam telah berlabuh, Tuan.

Saat ini, barangkali, ombak di pantai sedang meleburkan dirinya pada dinding karang. Lalu, sang elang bermata tajam yang sibuk menukik mangsanya di kala siang, sedang bersua bersama elang lain di tempat rahasianya.

Dan kamu, Tuan;
        merangkak di persinggahanmu.

Tujuh langit alam semesta ini ialah saksi saat kamu berkata bahwa perkelanaanmu merupakan hal yang kamu butuhkan. Untuk mencari pelabuhan terakhir, katamu.

The Lucky One


Aku patah hati. Baru pertama kali ini aku benar-benar menyukai seseorang, tapi aku langsung patah hati.

Aku terkikik pelan membaca tulisan itu. Goresan yang aku buat sendiri lima tahun lalu. Gila, pikirku. Tahu apa aku soal cinta saat itu?

“Ngetawain apa, sih?” Kamu menyela tawaku. 

Aku menggeleng. “Bukan apa-apa.” Dengan gerakan cepat, kumasukkan buku usang yang berisi curahan hatiku dulu. Buku yang lebih tampak seperti catatan biasa, bukan diary.

Kamu tidak berkata lagi. Secangkir kopi hitam di depanmu menarik perhatianmu. Kamu menyesapnya; pelan, tanpa tergesa, seperti rinai gerimis yang tampak dari jendela.

Ada Aku, di Sampingmu

foto: asmithblog.com

Ada aku di sampingmu, siap mendengar berjuta ocehan lucumu tentang hal-hal yang menarik bagimu. Aku tahu tahapannya; Kamu akan menggandeng tanganku menuju spot favoritmu (kamu selalu punya spot favorit, entah di manapun kita berada), melepasnya, kemudian kedua matamu akan berbinar-binar semangat. Sudut-sudut bibirmu akan tertarik ke atas, membentuk senyum tulus. Lalu, kamu akan bercerita, dan aku tidak boleh menyela. Kecuali kamu bertanya padaku di tengah-tengah cerita. Selalu begitu.

Rain: Kamu Masih Ingat?

Kau masih ingat, saat pertama kali kita bertemu? Ah, mungkin tidak. Karena saat itu aku yang benar-benar memerhatikanmu. Kau mungkin hanya menganggapku sebagai orang lain. Begitu saja.

pict: basistka.deviantart.com
Ketika kita bertemu untuk kedua kalinya, diam-diam aku tersenyum senang. Bukan apa-apa, aku hanya berpikir kau ini menarik. Benar, itu pandangan awalku tentangmu.

Biasanya, pandangan pertama itu menipu. Tetapi tidak denganmu. Karena nyatanya kau benar-benar menarik. 
Kau tidak seperti kebanyakan pria lain yang kutemui. Kau sopan sekali, dan itu tidak dibuat-buat. Kita pernah berjalan beriringan bersama, dan kau otomatis berjalan di sisi yang lebih dekat dengan jalan—membuatku merasa terlindungi. Kau mengingatkanku pada Nishimura Kazuto saja. Eh, kau pasti tidak tahu soal sosok-pria-keren-dalam-novel-Winter in Tokyo itu, ya?