Showing posts with label fiction. Show all posts
Showing posts with label fiction. Show all posts

Jarak

Kamu pernah berkata, “Menurut Joko Pinurbo, jarak itu sebenarnya tak pernah ada. Pertemuan dan perpisahan dilahirkan oleh perasaan.”

Saat itu, aku hanya bisa mengangguk. Aku tak paham bagaimana isi bacaan-bacaanmu. Yang aku lahap hanyalah setumpuk buku-buku teori fisika dan jurnal berbahasa asing. Aku tak pernah peduli pada jarak, pertemuan, perpisahan, kecuali fakta bahwa ada korelasi antara jarak dengan waktu dan kecepatan. Iya, lagi-lagi teori-teori yang katanya membuatmu pening (bahkan meskipun itu teori sederhana).

Belakangan ini, kalau bisa kembali ke saat itu, aku ingin berdebat denganmu saja. Tak apa kalau kamu juga bilang bahwa jarak itu tak pernah ada. Tapi, aku akan bilang bahwa... jarak itu terasa nyata. Karena kini aku merasakannya. Dan itu sama sekali tidak menyenangkan.

Kalau dulu aku bisa memberikan kejutan dengan muncul di depan rumahmu secara tiba-tiba, kini aku hanya bisa mengetuk pintumu lewat percakapan-percakapan dunia maya. Kalau dulu aku bisa mengajakmu untuk sekadar mengobrol sambil menemaniku makan es krim (meskipun kamu tidak mau menghabiskannya), sekarang aku hanya bisa mengetikkan pesan-pesan tak jelas, lalu menghapusnya lagi--semata-mata karena ada setumpuk kebingungan yang muncul hanya karena kamu tidak di sini.

Iya, aku tahu, kamu akan datang. Kamu akan pulang. Kamu akan kembali dengan membawa senyummu, tawamu, ceriamu, dan berjuta cerita yang tak akan pernah bosan aku dengarkan.

Tapi, pada akhirnya, kamu akan pergi lagi, bukan?

Yang Tak Ditakdirkan Bersama


Kemarin adalah pagi kesekian aku merayau, berusaha mencari-cari jejakmu.

Dulu, ada kamu yang setiap pagi menyuguhkan segelas semangat dan seikat senyuman lewat visualisasi apapun: hanya sekadar emoji di ponsel ataupun kamu akan datang ke rumah ketika matahari bahkan masih ragu-ragu menyebarkan energinya. Lalu, semua itu tak akan pudar hingga malam aku terlelap.

Itu dulu, sekarang tidak. Pagiku kini hanya diisi rutinitas yang tak pernah berubah: menjamu diri sendiri dengan kopi hitam, secangkir penuh, tanpa gula.

Jadi, ternyata begitulah rasanya menjalani hari-hari tanpa kamu.

Aku pernah dengan bodohnya menganggap bahwa kita adalah dua unsur yang sanggup melarut. Atau paling tidak, apa yang ada dalam dirimu dan diriku akan terdispersi hingga stabil. Nyatanya, kita hanya serupa suspensi yang bahkan bisa terpisah tanpa membutuhkan metode fisika.

Aku pernah berpikir bahwa sejauh apapun jarak antara kita, bahkan hingga 461,km jarak Semarang-Jakarta maupun sejauh perjalanan sang gembala mencari harta karun dalam The Alchemist-nya Paulo Coelho, pada akhirnya kita akan ditakdirkan bersama. Nyatanya, aku yang terlalu naif.

 Karena beginilah kita akhirnya,
       kita punya dunia masing-masing, dan hati yang tak bisa dipaksakan.

Omong-omong, pagi ini, aku menyuguhkan diriku secangkir kopi dengan krimer dan gula. Rasanya manis. 

Lalu, kuputuskan sudah. Aku akan pergi saja, menemukan rumahku sendiri: entah seperti apapun itu, dan kapan aku menemukannya. Bahkan, James Henry Trotter pun bisa bahagia hanya dengan menemukan Peach Raksasa yang kemudian menjadi kehidupannya, bukan?

Berbahagialah, kamu, dengan hidupmu. Aku juga akan berbahagia di sini.

(foto: lovethispic.com)

Yang Lebih Rindu

Ada banyak senja yang kita lewati tanpa bersua satu sama lain.

Kadang-kadang, aku menduga-duga apa yang sedang kamu lakukan. Mungkin, kamu sedang sibuk dengan kegiatan rutinmu. Mungkin, kamu sedang duduk diam di depan ponselmu sambil berdiskusi dengan teman-temanmu. Itu hanya secuil kemungkinan.

Di lain waktu, aku akan terlalu sibuk melakukan banyak hal hingga tak ada waktu untuk sekadar berandai-andai.

Bodohnya, itu terjadi begitu saja meski aku tahu seharusnya aku tidak boleh membuang-buang waktu seperti itu. Tapi, tenang saja, aku tak akan banyak mengganggumu.

Jadi, kamu sedang apa hari ini? Coba ceritakan. Aku tidak bisa bercerita, jadi aku akan lebih banyak mendengarkan. Aku tahu, aku hanya seorang pendengar. Aku tahu, aku tak lebih dari sekadar tukang ketik dan tukang baca, bukan seseorang yang bisa membuatmu jatuh cinta.
          : karena akulah yang telah jatuh.

Nah, maka, jelas sudah. Siapa yang lebih rindu?

A Man Who Drew the Face

*) I have submitted this story as an assignment to my lecture some weeks ago. (As I told you here, I am a student of English Department of Diponegoro University)

 
Heavy rain never made the man lost his spirit. He liked the sound of drizzle which fell to the roof. He could hardly wait for the smell of ground after raining. He even loved the way wind blew his hat.
The man, however, took shelter from heavy rain as he wanted to enjoy rain from his place. He sat down in front of a closed cafe. His shoes were splashed by puddle, and it looked so dirty. After thirty minutes, the rain went away. The sun appeared and shined the world. The wind revealed the coldness and took the warmth. People went out from their houses and continued their activity.

Purnama di Gumuk Pasir



Malam-malam di gumuk pasir selalu sama; ada bunyi desiran halus pasir pantai disertai gumaman lembut dari bibir Wening yang muncul di bawah sinar bulan. Ia melagukan kesunyian tak berjeda.
Gadis yatim piatu itu berdiri di tepi bukit. Sepi menderanya. Angin laut selatan meniup-niup pasir, meramu bentuk yang baru.
Purnama di hatinya telah padam.

The Corner of the Room

https://41.media.tumblr.com/tumblr_m8msawH75x1rddc45o1_500.jpg


That I know you is an entity letting me to see through deep down plenty of things. I remembered that you have already poisoned me to like what you love or to do what you want. I think as long as it is a good thing, then OK. Yet, you don’t stop until now. You are the one who can interfere with my life like this, and the one whom I permit to do such things.

Thus, I am happy.

Rarely did I listen to music. I was getting along with a bunch of works all day long or just being busy with movies. Then, you introduce me with bands and singers that you like and fulfilled my playlist with those items AND push me to hear. I don’t know whether we have same characteristics or what, but those are awesome. I am grateful.

Lima Huruf



lima huruf itu disebut rumah. r-u-m-a-h. aku tak tahu apa artinya.


orang bilang, rumah adalah tempat kamu pulang. tempat di mana kamu bisa menemukan kehangatan, bahkan tanpa perlu ada perapian sekecil apapun. di sana, ada canda dan tawa. ada cinta dan kedamaian. ada keluarga.

mereka juga bilang, rumah adalah bahagiamu. karena kamu bisa merasakan cinta, begitu katanya. hm, aku bahkan juga tak sepenuhnya paham mengenai makna cinta. pernah ada yang bertanya padaku, apa cinta bagiku? cinta itu bahagia, jawabku. barangkali kamu berpikir kenyatannya tidak demikian. benar, terserah kau saja. itu hanya harapanku, sejujurnya.

Aku, Zombigaret*



Aku bermimpi. 

Dalam mimpiku, aku kesulitan beranjak dari tempat tidurku. Kepalaku terasa pening dan aku merasa sesak napas. Lalu aku memejamkan mata kembali. Baru berbaring beberapa menit, aku terbatuk-batuk.

Kupaksakan diriku turun dari tempat tidur dan mengambil minum.

Aku meraba keningku. Panas. Aku demam, rupanya.

Kulangkahkan kaki menuju meja. Aku mengulurkan tangan, meraih sebungkus rokok. Begitu aku menyalakan sebatang, aku tersenyum kecil sendiri.

Nikmat.

***

Aku bermimpi lagi.

Mama menyeretku ke dokter. Aku menjalani proses ini itu yang tidak terlalu jelas di mimpiku. Sepertinya aku dirontgen juga. Pokoknya, ketika berada di ruangan, tiba-tiba si dokter menunjukkan selembar kertas pada Mama, lalu berkata, “Kanker paru-paru dan kanker mulut.”

Pulang

Aneh.

Aku baru bangun dari tidur siangku, lalu melangkah menuju jendela. Kusingkap tirai yang menutupinya, lalu aku memandangi kota dari kamar apartemenku yang terletak di lantai empat.

Kota benar-benar sepi.

Kesepian yang janggal. Tidak ada kesibukan, tidak ada orang, bahkan tidak ada ... kehidupan.

Aku berpikir untuk menghubungi teman-temanku. Kucari-cari ponsel yang biasanya kuletakkan di dalam tasku, tapi aku tidak dapat menemukannya. 

Ketika aku sekali lagi mengamati kotaku, aku baru sadar satu hal; kota ini terlihat beda. Tidak ada gedung pencakar langit yang biasanya bisa diamati dari tempatku sekarang. Tidak ada mall yang bisa kulihat dari sini. Bahkan kamarku pun tidak tampak seperti biasanya.

Satu Jam


17.00. Jingga turun dari bus yang ditumpanginya. Ia melirik jam yang sewarna senja di pergelangan tangan kirinya, lalu tersenyum kecil. Tepat waktu.

Kaki Jingga melangkah pelan menuju taman kota yang telah riuh. Pandangan matanya sesekali mengitari taman, mengamati kegiatan tiap kerumunan di sana. Ia melewati air mancur yang ada di tengah taman, tersenyum kecil melihat tingkah anak-anak yang sedang bermain, lalu berjalan menuju bangku panjang yang terletak di bagian belakangtersembunyi oleh pohon-pohon. Di depan Jingga, daun-daun perpaduan antara warna jingga, cokelat, dan kuning berserakan di tanah, bersaing dengan langit yang beranjak memerah.

foto: google.com

Di sana, Jingga duduk dan menunggu.


17.15. Sudah lima belas menit. Tidak biasanya orang yang ia tunggu terlambat seperti ini. Orang itu selalu tepat waktu dan selalu memenuhi janjinya.

[Cerpen] Mikrokosmos


pict: www.balidailyphoto.com

Aku berlari kencang. Cipratan air cokelat yang muncrat kemana-mana tak kuacuhkan. Butiran air hujan yang kali ini besar-besar berebut menuju ke arahku. Dingin. Bertarung dengan jarum-jarum hujan dalam jarak satu kilometer membuat seluruh tubuhku kuyup. Buku-buku jariku memutih. Tulangku terasa beku.
Begitu kakiku melewati pintu, teriakanku memenuhi ruangan. “Aku melakukannya lagi! Sudah kubilang, kan? Aku memahaminya!”
Mas Rama yang berkutat dengan jurnal-jurnalnya mengangkat kepalanya sejenak, menatapku. Alisnya bertaut.
“Tanaman-tanaman itu, Mas! Mereka berbicara padaku!”
Mas Rama menggeleng-geleng tak hirau, lalu menekuri jurnalnya lagi.
Tanpa kupedulikan pengabaian itu, aku terus saja meneriakkan kejadian yang baru saja kualami. Serta sebait kalimat yang dibisikkan meniran padaku.
Di setiap sudut bumi orang-orang terkekeh. Tuhan murka. Kaumku menangis. Semestamu akan luluh lantak.

Namanya Chairil Anwar

pict: pksbudayana.org

Pada akhirnya, aku percaya. Seruan angin yang bebas tak bertepi, mengalun layaknya rahasiaNya pada makhlukNya. Dentingan halusnya berirama dalam, tak tahu esok benar-benar akan ada angin kencang atau hanya semilir lembut. Ada banyak hal yang tidak kita ketahui. Kini aku mengerti itu.

***

Namanya Chairil Anwar. Aku mengenalnya sejak kecil. Kami tumbuh bersama seperti saudara yang kompak. Tinggi badan kami sama, hanya ia sedikit lebih putih dibanding aku.

Suatu hari, ia pernah berkata padaku, “Aku pernah bertanya pada Bapak, kenapa namaku Chairil Anwar. Kata beliau, agar aku bisa seperti Chairil Anwar yang hebat.”

Aku hanya tersenyum mendengarnya. Chairil menyukai namanya. Ia tidak mempermasalahkan dengan orang-orang yang kadang suka mengolok-olok atau menggodanya hanya karena namanya persis seperti nama pujangga besar Indonesia.

Pernah, ketika hari-hari pertama kami masuk SMP—saat guru mengabsen nama Chairil Anwar, teman-teman sibuk mengomentari.

“Oh, ini toh yang namanya Chairil Anwar?”

“Wih, ada pujangga besar di kelas kita!”

 “Aku ini binatang jalang ... Hahaha!”

Chairil tidak pernah peduli.

Gadis yang Membenci Hujan



“Kenapa kau membenci hujan?”
“Aku tidak membencinya.”
“Kau membencinya, kau menghindarinya.”
           “Apa aku punya alasan untuk membenci hujan?”
***
Semarang, Jawa Tengah
23
 C
pict: lovely-autumn-2012.blogspot.com


Aneh sekali.
Gadis itu tersenyum, tetapi aku tidak melihatnya tersenyum. Gadis itu tertawa, tetapi aku tidak melihatnya tertawa. Yang kulihat hanya usahanya untuk menarik sudut-sudut bibirnya ke atas, membentuk lengkungan, dan menyembunyikan tatapan sendunya dari teman-temannya.
Aku pertama kali melihatnya hari itu. Ketika langit masih menumpahkan air hujan ke kota kami, dan gadis itu hanya diam memandangi hujan dari pinggir bangunan kampus yang terlindungi oleh atap. Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya. Kemudian gadis itu tampak menghela napas, dan pergi.

Di Salah Satu Sudut Kafe, Hari Ini


“Ia harus tetap aman.”  
“Apakah kita akan terus menjaganya agar ia tetap hidup?”
“Tentu saja tidak. Akan ada hari ketika ia hanya akan menjadi sampah.”
***
pict: ljokoljo.blogspot.com

Aku tidak tahu kenapa aku mau mengenakan pakaian seperti ini. Celana panjang hitam yang kebesaran untukku, kaus hitam yang ditutupi jaket abu-abu, dan topi hitam untuk menutupi sebagian wajahku. Rambut sebahuku kuikat dan kututupi dengan topi.

Kupikir aku terlihat seperti penguntit.

Tetapi, demi bisikan-bisikan yang kudengar semalam saat aku pura-pura terlelap, aku tetap memakai pakaian yang mereka berikan padaku semalam. Kemudian pergi diam-diam dari persembunyian yang pengap itu. Sambil mencuri topi salah satu dari mereka, tentunya.

Gadis Bertanduk Rusa






Aku akan membagikan sedikit rahasia kecil untukmu.

Mungkin kau tidak akan percaya. Baik, kuberi tahu saja; sebetulnya ada banyak makhluk ajaib (atau tepatnya; aneh) di bumi ini.

Termasuk aku.

Keanehanku adalah, aku bisa mengubah diriku menjadi burung phoenix. Terdengar menggelikan? Aku juga menganggap seperti itu, sebelum aku secara tidak sengaja mengubah diriku menjadi phoenix di tengah-tengah pelajaran matematika di sekolah.

Untungnya aku duduk di pojok belakang dan tidak ada yang memperhatikanku.

Tidak, tidak. Aku tidak akan membagikan cerita-cerita keren mengenai petualangan dan kehebatanku seperti di novel-novel yang kau baca.

Aku hanya ingin menyampaikan sebuah kisah mengenai gadis yang kutemui.

Rain: Kamu Masih Ingat?

Kau masih ingat, saat pertama kali kita bertemu? Ah, mungkin tidak. Karena saat itu aku yang benar-benar memerhatikanmu. Kau mungkin hanya menganggapku sebagai orang lain. Begitu saja.

pict: basistka.deviantart.com
Ketika kita bertemu untuk kedua kalinya, diam-diam aku tersenyum senang. Bukan apa-apa, aku hanya berpikir kau ini menarik. Benar, itu pandangan awalku tentangmu.

Biasanya, pandangan pertama itu menipu. Tetapi tidak denganmu. Karena nyatanya kau benar-benar menarik. 
Kau tidak seperti kebanyakan pria lain yang kutemui. Kau sopan sekali, dan itu tidak dibuat-buat. Kita pernah berjalan beriringan bersama, dan kau otomatis berjalan di sisi yang lebih dekat dengan jalan—membuatku merasa terlindungi. Kau mengingatkanku pada Nishimura Kazuto saja. Eh, kau pasti tidak tahu soal sosok-pria-keren-dalam-novel-Winter in Tokyo itu, ya?