Showing posts with label 30haribercerita. Show all posts
Showing posts with label 30haribercerita. Show all posts

[Wedding Story] Pendaftaran Menikah

Persiapan menikah paling krusial? Tentunya mengurus pendaftaran nikah ke KUA, dong. Biar tenang dan pas hari-H sah secara agama & hukum. 😉

Aku udah mulai tanya-tanya soal ini sejak 5 bulan sebelum nikah. Berdasarkan informasi dari beberapa teman, kurang lebih prosesnya mirip dengan penjelasan di ppid.semarangkota.go.id (Cara Mendapatkan Surat Nikah). Intinya, di awal, surat pengantar dari RT RW dibawa ke kelurahan untuk mendapatkan isian blangko N1-N4. Nantinya blangko itu dibawa ke KUA, dan proses selanjutnya dilakukan di sana.

Apakah sesuai? Nggak... Mungkin tiap kecamatan masih beda, ya. Padahal menurutku prosedur di web PPID udah jelas.

Jadi, suatu hari aku ke kelurahan sendiri. tanya proses pendaftaran nikah ke salah satu staf, untuk memastikan aja sih betul nggak alurnya sesuai di web. Beliau memberi tahu daftar dokumen yang dibutuhkan sambil menjelaskan kalau nantinya itu akan dibantu urus oleh Pak Modin ke KUA. Pak Modin ini adalah sosok yang memang sering bantu pengurusan dokumen pernikahan di daerah sini.

Karena kurang yakin dengan daftar dokumen yang diperlukan, di rumah aku bilang ke ortu untuk tanya langsung ke Pak Modin. Kebetulan, rumah beliau nggak jauh, dan Bapak kenal juga.

Dari beliau, daftar dokumen yang perlu diberikan calon pengantin putri:

  • Fotokopi KK
  • Fotokopi KTP calon pengantin
  • Fotokopi KTP ayah, ibu, saksi
  • Fotokopi akte kelahiran
  • Fotokopi ijazah
  • Fotokopi surat nikah orang tua
  • Fotokopi surat keterangan imunisasi (TT)
  • Pasfoto 2x3 (5 lembar), 3x4 (1 lembar), 4x6 (1 lembar)
  • Surat pengantar RW

Untuk calon pengantin putra, harus ngurus dokumen sendiri juga. Ini konteksnya nikahnya di tempatku ya. Jadi mas calon ngurus juga buat dapetin dokumen-dokumen yang kemudian aku bawa ke Pak Modin. Plus fotokopi-fotokopi dokumen yang kurang lebih sama kayak punyaku + pasfoto catin putra juga.


Setelah semua dokumen lengkap dan diserahkan, aku cuma tinggal nunggu aja. Kalau nggak salah, 2 bulan sebelum hari H udah lengkap semua. Selebihnya, pengurusan dokumen N1-N4 itu dibantu urus oleh Pak Modin berdasarkan dokumen yang aku berikan.

Menjelang Pernikahan

Sekitar H-1 bulan, aku & ortu sempat beberapa kali ke rumah Pak Modin lagi buat nanyain perkembangannya. Apakah ada yang dibutuhkan lagi atau gimana.

Nah, sempat ada kendala di sini... Suatu kali, kami dapat info kalau menjelang hari-H, capeng putri & capeng putra harus hadir bersama wali ke KUA secara langsung. Kendalanya, mas calon waktu itu udah dapat penempatan CPNS yang cukup jauh dari Semarang, dan posisinya sedang pelatihan dasar (latsar) CPNS. Aturan latsarnya cukup ketat. Dari awal, jatah bolos/izin direncanakan untuk digunakan pas nikah (karena latsar masih berlangsung sampai saat itu).

Aku & keluarga sempat bolak-balik beberapa kali ke staf KUA & Pak Modin. Bahkan sempat ngajuin, bisa nggak hadir lewat video aja? (Kalau konteks "wajib hadir"-nya untuk bimbingan menikah, menurutku lewat video juga nggak jadi penghalang). Atau, kalau ada dokumen yang perlu ditandatangani, bisa ditunda sampai hari H.

Aku juga tanya-tanya ke teman yang udah pernah nikah, apakah catin wajib hadir dua-duanya? Secara aturan, kayaknya betul ya bahwa sebaiknya hadir dua-duanya untuk diberi penjelasan/bimbingan tentang menikah. Tapi berdasarkan pengalaman teman-teman, ada juga yang bisa mengurus tanpa kehadiran langsung catin putra. Bahkan ada juga yang catin putri & putranya nggak hadir sama sekali ke KUA selama proses persiapan (karena terkendala jarak). Semuanya bisa diurus oleh ortu pihak carin putri. Ini hasil aku tanya ke teman-teman yang di Semarang maupun non Semarang, ya.

Tapi, alhamdulillah kendala ini bisa teratasi dengan baik. Detailnya nggak aku ceritakan di sini, japri aja ya kalau mau sharing. 😂 Oiya, ketika di KUA, ternyata aku nggak dapat bimbingan menikah gitu.. melainkan lebih ke arah pengecekan data dan tanda tangan sejumlah dokumen.

Itu proses terakhir pengurusan pendaftaran. Jangan lupa, pas pertemuan terakhir itu, pastikan kembali lokasi, jam, dan tanggal akad ya ke bapak penghulu.

Setelah itu, tinggal menunggu hari-H aja. Nggak ribet, kan, prosesnya?😄

[Wedding Story] Setelah Lamaran

Setelah lamaran, apa selanjutnya?

Yak, menentukan tanggal.

Ketika proses lamaran, tanggal menikah memang belum pasti. Jadi, baru dibahas setelahnya.

Di keluarga besarku, penentuan tanggal menikah masih pakai hitungan Jawa dari tanggal lahir kedua calon pengantin. Aku kurang paham detailnya karena yang bantu hitung adalah Mbah (bapaknya Ibu). Setahuku, proses hitungan ini pun bisa beda-beda ya tiap orang. Ada yang hanya berpatokan ke tanggal lahir, ada juga yang ditambah aspek lain misal tanggal lahir orang tua, arah rumah menghadap mana, dll.

Alhamdulillah, di keluargaku, tanggalnya cukup fleksibel. Bukan saklek harus banget tanggal ini. Jadi, muncul beberapa opsi di bulan-bulan yang berbeda. Yang paling aku syukuri kemudian, semua opsi tanggalnya adalah hari Minggu, bukan hari kerja. Ini membantu banget karena jarak tempat tinggalku & keluarga besar calon suami jauh banget. Bakal repot kalau hari kerja. Apalagi, keluarga calon suami nggak memakai hitungan Jawa kayak gini.

Dalam proses memilih tanggal, aku sempat minta pendapat ke calon suami. Lalu, orang tuaku pun sempat menghubungi orang tua calon suami untuk menyampaikan bahwa dari keluarga besar kami bisanya tanggal sekian bulan sekian.

Nah, setelah ada tanggal pasti, keluargaku gantian berkunjung ke rumah keluarga calon suami di Jember. Nggak banyak orang, sih.. hanya keluarga inti, beserta Pakdhe & Budhe. Tujuan kunjungan ini silaturahmi, sekaligus menginformasikan tanggal pernikahan secara langsung.

Tentunya proses aktualnya panjang, ya, dibanding yang tercantum di sini. Karena ini melibatkan dua keluarga besar yang juga punya kepentingan masing-masing. Belum lagi kekhawatiran karena overthinking memikirkan ini itu. Tapi, ini kan proses menuju salah satu ibadah. Karena niat dan tujuannya baik, nantinya akan dituntun juga, kok.

Untuk teman-teman yang sedang atau akan merencanakan pernikahan, semoga proses penentuan tanggalnya berjalan lancar dan kedua belah pihak keluarga setuju tanpa banyak kendala, ya. Aku paham tiap keluarga punya caranya masing-masing. Pelan-pelan aja.
Masjid yang kami singgahi dalam perjalanan.

 Silaturahmi ke rumah calon mertua untuk pertama kalinya. 

Keluargaku sama sekali belum pernah ke Jember. Kami hanya mengandalkan Google Maps selama perjalanan. Kami sampai sekitar pukul 07.00 WIB. Karena masih ada waktu sampai waktu check in penginapan, kami jalan-jalan ke pantai di Jember, yaitu Pantai Papuma dan Pantai Watu Ulo.

Kedua pantai ini ada di satu daerah yang sama. Kalau mau ke Papuma, pasti harus melewati Watu Ulo. Papuma jauh lebih ramai dibanding Watu Ulo. Ombaknya pun lebih kencang, ya. Kami sempat ditegur pengurus pantai untuk geser ke bagian tengah pantai aja (awalnya kami memang berada agak di pinggir, dekat batu-batu). Ombak di tengah pantai cenderung lebih kecil dibanding di pinggir, jadi lebih aman.

Btw, karena keasyikan main air, HP-ku sempat nyemplung ke air laut dan hampir kebawa arus. Untungnya berhasil ditangkap Pakdhe. Tapi... HP-nya mati total. Sorenya setelah check in penginapan dan istirahat sebentar, aku minta tolong calon suami untuk bawa ponsel itu ke konter reparasi. Tapi, menurut penjaga konter, prosesnya butuh waktu lama. Sementara, aku dan keluarga berencana pulang keesokan siangnya. Akhirnya, untuk sementara aku pinjam hp adek sebagai alternatif darurat. HP-nya batal direparasi. Agak sedih ya, rasanya kurang tenang selama istirahat dari siang sampai malam. Padahal, hari itu memang sengaja diperuntukkan sebagai hari istirahat setelah perjalanan jauh.

Paginya, kami check out penginapan dan berangkat menuju rumah keluarga calon suami. Alhamdulillah, kami disambut hangat. Banyak keluarga besar yang ikut hadir. Menjelang siang, kami pamit pulang. Keluarga mas calon suami ngasih banyak oleh-oleh untuk dibawa pulang. Dari sana, kami langsung menuju Semarang lagi.

HP-nya? Nggak tertolong. Di Semarang, HP-nya sempat dibawa ke konter juga tapi katanya nggak bisa diperbaiki lagi. Akhirnya beli ponsel langsung ke toko karena butuh penggantinya secepat mungkin buat kerja dll.

Beberapa hari setelahnya pun keluargaku sempat berduka karena Mbah Lanang dari keluarga Bapak (bapaknya Bapak) meninggal dunia. Pokoknya, hari-hari di akhir 2020 itu terasa sibuk banget..
Pantai Papuma

[Wedding Story] Cerita Lamaran (2): Cincin

cincin.

cincin lamaran ini kami beli langsung (waktu itu belum pandemi) di toko emas semar nusantara semarang, karena sepertinya ini toko besar dan banyak pilihan. awalnya pengin pesan daring, tapi takut nggak keburu.

btw, toko emas tuh rame banget ya.. bener-bener banyak orang di semua area. sebagai orang yang lebih suka belanja online, pergi ke toko emas menurutku menguras energi banget.

untuk cincin lamaran, dari awal aku emang mau pilih yang warna emas asli aja, bukan yang putih. sebetulnya menurutku pilihan modelnya kebanyakan kurang sesuai selera (untuk yang kadarnya agak tinggi, karena ada beberapa pilihan kadar emasnya). tapi karena butuh dan males kalau cari toko lain, berusaha pilih yang tercantik, di antaranya yang ada.

tukar cincin nggak pas lamaran? iya.. tapi cincin laki-laki dibeli via online, karena mau beli yang silver (kan laki-laki nggak boleh pakai emas). belinya di spilla jewelry, ya. selain dengan transaksi via online, ada store yang bisa didatangi juga kok kalau mau sekalian nyoba ukuran cincin mereka dan lihat beberapa contoh cincinnya.

untuk cincin silver, pembuatannya jauh lebih singkat daripada cincin emas atau palladium, jadi masih terjangkau waktunya. kurang lebih 2 mingguan ya, tapi seingatku jadinya lebih cepat.

cincinnya nggak model couple dong? mm, untuk cincin laki-laki, kami belinya yang polos dan ada bagian yang berlapis warna emas, biar lumayan nyambung sama cincin yang aku beli. meskipun ujung-ujungnya cincinnya nggak dipakai juga sih.

kalau teman-teman mau beli cincin dan kebetulan masih ada waktu panjang, aku lebih menyarankan beli online aja di toko yang memang bisa custom. karena kalau beli langsung, pilihannya terbatas. bisa jadi kalian suka modelnya, tapi nggak ada ukuran yang pas (pengalaman waktu itu, toko emas yang kudatangi nggak bisa resize cincin). lalu, meskipun bisa request untuk tambah ukiran nama, menurutku ukirannya lebih cantik ketika custom online ke toko yang memang spesialis di cincin custom. jumlah hurufnya pun lebih terbatas dibanding custom online (mungkin karena cincinnya udah jadi duluan, jadi sulit).

[Wedding Story] Cerita Lamaran (1): Bunga & Dekorasi

cerita lamaran. 

merencanakan lamaran (yang tentunya mengarah ke pernikahan) tuh jadi obrolan biasa sehari-hari. maksudnya nggak ada momen khusus "will you marry me?" di tempat spesial sambil ngasih cincin. omong-omong soal melamar, adegan paling nyantol di kepalaku adalah ketika remi melamar kugy di pinggir pantai (film "perahu kertas"). ada suasana nyaman, ada pemandangan yang indah banget, dan ada debur ombak pelan. perfect moment for a couple. tapi, hati kugy nggak di sana. masih kebayang raut muka canggungnya ketika remi jongkok buat ngasih cincin..

yah, pada akhirnya, bukan tempatnya. bukan suasananya. bukan makanannya. tapi, orangnya.

kalau versiku, setelah dijadikan obrolan secara berkala, sempat ada momen di mana dia datang ke rumah sendiri untuk meminta izin sekaligus menyampaikan maksud bahwa dia & orang tuanya akan datang melamar. menuju hari-H, pengin banget ada dekorasi kecil-kecilan di rumah biar ada background foto sebagai kenang-kenangan. tapi, sewa dekor ternyata lumayan juga ya.. jiwa rakyat jelata jadi bergejolak. akhirnya memutuskan buat dekor sendiri aja. cari-cari referensi foto & video. lalu beli kain, daun-daun imitasi, pita, lampu tumblr, dan hulahop. kainnya dijahit (disambung) ibu. hulahopnya aku hias pakai pita dan daun imitasi. lalu aku juga bikin inisial huruf pakai kardus dan kertas marmer. H-1, semua didekor di dinding, dibantu bapak & ibu. total biaya cuma 100 ribuan, nggak sampai 200 pokoknya..

malam hari H, aku sempat kirim pesan, minta dibawakan bunga. kenapa? pengin aja.. kapan lagi kan dapat bunga selain pas kelulusan? lalu kesannya romantis aja (halah 😄). terus, biar pas foto agak rame dikit karena ada bunga (dekorku kan nggak ada bunganya). ngerepotin banget memang, baru minta H-1.. tapi aku juga yakin kalau nggak minta tuh nggak bakal dibawain, haha.

pada akhirnya bunganya dibeli beneran, alhamdulillah dapat. bahkan meski dadakan dan malem-malem (mepet tutup), masih ada beberapa opsi rangkaian bunganya (gambarnya sempat difotoin biar aku bisa ikut milih).

alhamdulillah, semuanya lancar.. bunganya juga masih segar sampai besoknya. cantik, kan, aku & bunganya? 🌺🌺🌺😂



teman

kami disatukan barangkali enam belas tahun lalu, ketika putu bumbung belum jadi makanan langka dan bakso ayam belum muncul. hiburan kami adalah TV dan permainan populer pada zamannya: petak umpet, tong rembet, engklek, dakon, dsb. kami nggak kenal HP atau komputer. gadget terkeren kami adalah gimbot tetris.

kami suka baca. dulu, anak koran "suara merdeka" yakni "yunior" berwujud terpisah dari induknya. itu adalah bacaan paling hits (selain bobo dan KKPK) bagi kami. kami berlomba-lomba berkarya: kirim surat, pengalaman, pantun, gambar, dsb. bayangin aja, karya anak SD dimuat di media jateng. kebayang gimana bangganya kami kan?😂 kami juga sempat berkorespondensi dengan sahabat pena. tulis di kertas, masukkin amplop, tempel perangko. romantis banget rasanya.

puncak kebersamaan kami adalah saat kami ikut jadi wartawan yunior. ikut pelatihan, dapet ID card, sampai akhirnya benar-benar liputan (tentunya didampingi). one-day trip kami untuk wawancara ke tokoh masyarakat menjadi nggak terlupakan. kami boleh jadi masih SD, tapi semangat kami kayaknya bisa menggentarkan banyak hal. ketika akhirnya foto kami mejeng di koran (nama kami tercetak jelas) dan artikel hasil wawancara dipublikasikan, nggak bisa dibayangin betapa senangnya kami.

bertahun-tahun setelahnya, meskipun kami terpisah sejak SMP-kuliah dan kami bertemu banyak sahabat baru, ternyata ikatan kami memang enggak pernah pudar. masih tetep nyambung tiap ketemu, tetep nggak jelas, masih tetap bisa merangkul satu sama lain. saya masih melihat widya yang sama, rika yang sama, dengan versi lebih dewasa.

saya bersyukur banget masa-masa SD saya diwarnai banyak hal menakjubkan, dan kalian ada di sana bersama saya.
.
"Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap." (HR. Bukhari & Muslim)

Langit dan Biru

Kring! Telepon berdering. Biru menelepon Langit.

"Langit, aku tidak bisa berkunjung hari ini. Aku akan pergi bersama Samudra."

"Baiklah! Aku akan melakukan hal lain hari ini. Kita bertemu besok."

Klik. Telepon ditutup.

Angin bertiup lebih kencang. Guntur menggelegar. Langit menjelma hitam. Mendung menggelayuti langit. Aku tumpah meruah.

Ah, akhirnya aku bisa jalan-jalan lagi!


Menjelma Apa pun

Aku adalah tas yang engkau pakai untuk bepergian ke mana pun kedua kaki melangkah.

Aku adalah sepasang sandal yang menjagamu dari suhu panas jalanan dari bebatuan ketika engkau berjalan menuju masjid untuk shalat lima waktu, ditemani peci hitam yang kau pakai.

Aku adalah tisu yang menyeka tangismu. Meskipun aku tahu frekuensi kau menangis adalah satu banding seribu.

Aku ada di mana-mana. Aku adalah bahu tempat kau bersandar saat sedang lelah. Aku ada di dalam rumah tempat kau bernaung ketika hujan deras. Aku ada sebagai mendung yang sejenak menaungi engkau dari panasnya matahari.

Aku bisa menjelma menjadi apa pun, hanya satu syaratnya: kau ada bersamaku.

sajak sepuluh menit

barusan aku dengar suara kembang api, 
aku baru sadar kalau semenit lalu tahun sudah berganti,
bus nimas masih menderu di gelapnya jalanan malam,
dan wanita sebelah rumah bergeming menonton film dalam diam.
sementara aku terjebak dalam pusaran beku es krim feast dalam kulkas,
menggigil dan rasanya tergilas.
aku baru paham kalau ternyata aku rindu darurat,
apakah perlu dibawa ke rumah sakit cepat-cepat?

Lipstik Merah yang Menyisakanku dalam Patah

Ada bekas lipstik merah di ujung jarimu setelah kamu menyeka bibirku dari noda sambal yang tertinggal di sana. Aku ingin bilang, tapi kamu buru-buru pergi. Menjawab salamku pun tidak, apalagi menoleh dan berucap perpisahan. Kamu menyisakanku dalam patah.

Aku berusaha mencari-carimu dalam kerumunan. Nyatanya yang kulihat adalah cincin uskup matahari yang mengerling jahat padaku dalam jari-jari lingkarannya. Sudut dua puluh dua derajatku lebih kaya daripada hatimu yang berjelaga itu, katanya.

Kamu pernah bilang kalau kamu dilahirkan di bumi untuk dipertemukan denganku. Tapi yang sekarang kamu miliki hanyalah segudang penyesalan penuh debu dan tungau.

Aku bertanya-tanya mengapa tak kamu robohkan saja gudang itu. Biar lama-lama aku terajah dalam sepiku, membatu abadi seperti Malin yang dikutuk ibunya.

Mati dalam warna-warni ingar bingar yang fana.

Topeng

Kamu pernah berkomentar, untuk apa produsen boneka susah-susah membuat boneka super mahal dan merepotkan yang bisa makan, kencing, dan berak padahal manusia bisa melakukan ketiganya. Apalagi, wajahnya sama sekali tidak lucu bagimu.

Di lain waktu, kamu menggunjingkan goresan lipstik yang tidak rata dari seorang gadis yang baru belajar berdandan. Atau kamu akan menyinyiri selera berpakaian orang yang menurutmu buruk.

Kamu tidak pernah lelah memakai topeng sosok antagonis dalam goresan ceritamu sendiri. Padahal, topengmu sudah rapuh: memudar dan mengabu.

Maskaramu sudah berkali-kali luntur karena menangis diam-diam. Kamu menggigil dan tanganmu gemetar, memegang selembar foto. Deru kendaraan menerbangkan debu. Penjaja es menawarkan dagangan. Kernet bus meneriakkan tujuan. Perutmu seakan ditarik-tarik. Topan berputar dalam kepalamu. Ada yang berdenging kencang.

Aku adalah dirimu dalam kaca pigura yang remuk dalam genggaman manusia.

Yang Lebih Aku Suka



Kamu suruh aku menentukan mana yang lebih aku suka antara laptop atau novel (karena katamu aku sering disibukkan keduanya), padahal aku lebih suka pilih kamu. Tapi aku tidak bilang, takut dibilang gombal.

Aku bilang saja, aku lebih suka makan. Untungnya, aku pemakan segalanya, tak bersyarat karena makan denganku tak perlu harus ada ayam atau ikan, tak selalu harus ada kecap atau kerupuk. Jadi, kita bisa makan di mana saja.

Kamu tertawa renyah sambil menusukkan garpumu ke potongan buah di atas piring, lalu mengunyahnya. Aku tahu buah-buahan menyehatkan, tapi tawamu sama menyehatkannya bagiku.

Cukup sudah, kamu tak perlu bilang aku gombal. Nikah saja kamu sama kain rombeng-rombeng itu kalau kamu ingat-ingat dia terus.

[30 Hari Bercerita] Sepatu


Kalau kamu adalah sepatu, maka aku adalah mesin jahit yang menempamu. Aku pula yang menjadi bagian dari perjuanganmu dari yang hanya selembar kulit yang kemudian disulap menjadi sepatu: licin, cokelat mengkilap dan bersol satu sentimeter.

Kamu rela mengalami bertubi-tubi luka. Kamu ikhlas mendapatkan sandungan menyakitkan yang diam-diam membuatmu menahan keras agar air matamu tak keluar. Kamu juga senang karena kamu dipertemukan dengan mereka yang ikut tertawa dan tergelak bersamamu.

Tapi, agaknya kamu lupa bahwa akulah yang menjembatani pertemuan-pertemuanmu dengan mereka. Tanpa aku, kamu hanyalah seonggok potongan kulit tak bermakna.

Pada akhirnya, kamu akan lebih senang berada di mal mewah yang terang benderang dengan listrik berbiaya miliaran rupiah per bulan. Disandingkan dengan baju dan tas glamor yang menyilaukan mata.

Kataku, terserah kamu, karena nyatanya aku hanyalah angin lalu yang sekadar mengunjungi harimu.

--ayuaara


#30haribercerita sekaligus #tantanganmenulisayu dengan dua kata kunci dari @rahmaniayulichandra: "baju" dan "sepatu"

@30haribercerita #30HBC1801